Malam ini.
Aku berdiri di depan cermin besar di dalam kamar kontrakanku yang sempit. Di depanku, tergantung sebuah jas yang sudah lama tidak dicuci kering (dry clean) sejak terakhir kali dipakai saat acara perusahaan yang lama. Warnanya gelap, potongannya klasik, dan saat aku mengenakannya, rasanya sedikit longgar. Berat badanku mungkin turun beberapa kilogram selama beberapa bulan terakhir—akibat hidup sederhana dan tekanan batin yang perlahan mereda.
Melihat bayanganku di cermin, aku merasa asing. Pria di cermin itu terlihat rapi, terlihat "berhasil," terlihat seperti eksekutif muda yang memiliki segalanya. Tapi aku tahu kebenarannya. Di balik jas itu, ada dompet yang tidak berisi banyak, ada jiwa yang masih menambal luka imbas perceraian, dan ada seseorang yang sebenarnya hanya ingin duduk di teras sambil menyesap kopi hitam tanpa harus memikirkan target perusahaan.
Aku menarik napas panjang. Ini hanya makan malam, bisikku pada diri sendiri. Ini bukan tentang menjadi seseorang yang baru, ini hanya tentang memenuhi undangan.
Aku memesan taksi daring. Selama perjalanan menuju hotel bintang lima tempat acara itu berlangsung, aku memandangi jalanan Jakarta yang macet. Lampu-lampu kota yang berpendar melalui kaca jendela terasa seperti ejekan. Dulu, aku sering melewati jalanan ini dengan mobil pribadiku, terjebak dalam rutinitas yang sama, memikirkan apakah Maya sudah makan malam di rumah, atau apakah dia sedang marah karena aku lembur. Sekarang, aku berada di sini sebagai orang yang berbeda. Aku tidak lagi membawa beban "menjadi suami yang sempurna" di pundakku.
Sesampainya di lobi hotel, kemewahan itu langsung menyambutku. Karpet empuk, aroma parfum mahal yang beradu dengan aroma bunga segar, dan staf yang membungkuk sopan. Aku merasa seperti penyusup. Setiap langkahku di atas lantai marmer itu terasa tidak pas. Aku mencoba bersikap tenang, meniru gaya Citra yang selalu elegan dan tidak terintimidasi oleh kemewahan apa pun.
Citra sudah menunggu di dekat pintu masuk restoran eksklusif di lantai teratas. Dia tampak... luar biasa. Malam itu, dia tidak mengenakan setelan kantor yang kaku. Dia memakai gaun malam berwarna biru malam yang sederhana namun memeluk tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada perhiasan yang mencolok, hanya anting kecil yang berkilau di bawah lampu temaram. Saat dia melihatku, senyumnya tidak lagi bersifat profesional. Itu adalah senyum yang hangat, senyum yang membuat detak jantungku sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Kamu datang," ucapnya saat aku sampai di hadapannya. Dia menatapku dari atas ke bawah, menilai penampilanku. "Jas itu... kamu sudah lama tidak memakainya, ya?"
Aku terkekeh canggung. "Bisa dibilang begitu. Terakhir dipakai saat saya masih merasa 'penting' di mata dunia."
Citra tertawa kecil. "Dan sekarang? Kamu tidak merasa penting?"
"Sekarang saya merasa cukup," jawabku jujur. "Cukup untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun."
Kami berjalan menuju meja kami yang terletak di dekat jendela besar, menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Malam itu, suasana restoran sangat tenang. Musik jazz pelan mengalun, mengisi celah-celah percakapan kami. Kami memesan makanan, tapi jujur, aku lebih fokus pada bagaimana cara Citra memegang gelas anggurnya daripada rasa makanannya.