Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #10

Chapter #10 Transformasi dan Pengakuan

Siang itu, suasana kantor yang biasanya teratur mendadak berubah menjadi sebuah spekulasi. Citra berjalan keluar dari ruangannya, menatapku dengan tatapan yang menyirat kan perintah, "Yos, ikut aku. Ada sesuatu yang ingin kubeli."

​Aku tidak membantah. Sebagai orang kepercayaannya, aku segera mengikuti langkahnya. Namun, pikiranku melayang pada urusan logistik atau mungkin survei lokasi baru. Aku sama sekali tidak menduga bahwa mobilnya akan berhenti di depan sebuah butik high-end di pusat Jakarta—tempat yang namanya saja jarang terdengar di telingaku, apalagi isinya.

"Kita ada janji dengan klien di sini?" tanyaku bingung saat kami memasuki butik yang suasananya sangat privat dan tenang itu.

​Citra tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat kontras dengan suasana butik yang sunyi. "Tidak ada klien, Yos. Hanya kita."

​Apa yang terjadi setelahnya terasa seperti mimpi yang tidak nyata. Citra memanggil staf butik dan memberiku isyarat. Dalam hitungan jam, dia memilihkan tujuh set pakaian lengkap untukku. Kemeja dengan bahan sutra kualitas terbaik, celana kain yang potongannya sempurna, dasi sutra, ikat pinggang kulit asli, hingga kaos kaki dan tiga pasang sepatu yang total harga keseluruhannya setara dengan biaya hidup ku selama setahun. Saat aku melihat label harganya, jantungku seolah berhenti. Ini bukan sekadar pakaian; ini adalah investasi yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Citra, ini terlalu berlebihan," bisikku saat staf butik pergi sebentar. "Aku tidak bisa menerima ini."

​Citra menatapku, tatapannya tegas namun ada binar main-main di sana. "Ini bukan hadiah, Yos. Ini perintah. Sebagai orang kepercayaanku, kamu adalah wajah dari timku. Kamu harus terlihat seperti apa yang kamu wakili. Penampilanmu sekarang tidak cukup untuk menemaniku di level atas. Anggap saja ini bagian dari biaya operasional."

​Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan cara yang membuatku merasa... tidak sekadar sebagai bawahan. "Setelah ini, kamu boleh pulang. Tidak ada proyek yang perlu dibahas. Aku keluar hanya ingin belanja." Kalimat itu diucapkan dengan nada menggoda, seolah-olah dia sedang memainkan sesuatu di kepalaku.

Lihat selengkapnya