Di kantor, kami adalah dua orang asing yang kebetulan bekerja di ruangan yang berdekatan. Jika ada rekan kerja yang melihat, kami hanyalah Direktur dan staf kepercayaannya yang fokus pada proyek. Tidak ada tatapan yang terlalu lama, tidak ada bisik-bisik yang tidak perlu. Kami bermain peran dengan sangat rapi. Namun, di balik topeng profesionalisme itu, ponselku menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.
Satu per satu, notifikasi pesan WhatsApp muncul di layar ponselku, bahkan saat aku sedang duduk di ruang rapat atau sedang mengerjakan laporan. Awalnya, itu adalah pesan-pesan singkat terkait pekerjaan. Namun, seiring berjalannya waktu, isi pesan itu berubah.
"Sedang apa?"
"Aku bosan di sini."
"Tadi meeting tadi membuatku pusing, kamu tadi melihat wajah direktur pemasaran, kan?"
Aku hanya bisa membalas dengan singkat, mencoba menjaga jarak agar tidak terlihat sedang mengobrol saat jam kerja. Namun, Citra seolah tidak peduli. Dia seakan ingin memastikan keberadaanku selalu ada di jangkauannya, meski hanya melalui layar ponsel.
Ketegangan itu memuncak ketika hari kerja berakhir. Saat aku melangkah keluar dari lobi kantor, aku berharap bisa kembali ke kontrakanku, melepas lelah, dan menikmati kesendirian yang selama ini menjadi obat bagiku. Namun, harapan itu sirna saat ponselku bergetar lagi.
"Temani aku bicara. Aku lelah dengan hari ini."