Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #12

Chapter #12 Kaca yang Retak

​Kantor hari itu terasa lebih pengap dari biasanya. AC ruangan seolah mati, menyisakan udara yang berat dan stagnan. Aku duduk di mejaku, mencoba menatap layar komputer, namun pikiranku melayang pada percakapan telepon tadi malam yang baru berakhir jam dua dini hari. Mata ini perih, tapi bukan karena kurang tidur, melainkan karena kelelahan jiwa yang luar biasa.

​Ketegangan itu pecah di siang hari, saat pintu kantor Citra terbuka lebar. Seorang pria berjas charcoal yang rapi, dengan jam tangan yang harganya bisa membiayai hidupku setahun, masuk dengan senyum yang dipaksakan. Dia adalah tunangan Citra. Dia datang membawakan makan siang, sebuah gestur yang bagi orang lain terlihat romantis, tapi bagiku, itu seperti melihat pengingat nyata akan keterbatasanku sendiri.

​Aku mengamati dari balik kaca transparan ruang kerjaku. Citra tidak tersenyum. Wajahnya membeku, dingin, dan kaku. Dia hanya mengangguk pelan, menjawab pertanyaan pria itu dengan kalimat singkat yang penuh dengan nada bisnis, seolah dia sedang berbicara dengan klien yang paling tidak disukainya.

​Pria itu keluar setelah sepuluh menit. Begitu pintu tertutup, Citra langsung meraih gagang telepon di mejanya. Intercom ku berbunyi. Suaranya terdengar bergetar, penuh amarah yang tertahan.

"Yos, masuk ke ruangan sekarang."

​Aku masuk. Dia sedang berdiri di dekat jendela, tangannya mengepal. Dia tidak menoleh, tapi aku bisa merasakan aura frustrasinya yang meledak-ledak.

"Lihat dia," suaranya sinis, merujuk pada tunangannya yang baru saja pergi. "Dia pikir dengan membawakan makan siang, dia bisa membelikan perasaanku. Dia pikir dia bisa masuk ke duniaku dengan mudah tanpa mengerti apa pun tentang siapa aku sebenarnya."

​Dia berbalik menatapku, matanya merah. "Yos, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menikahi pria yang bahkan tidak bisa membaca suasana hatiku sendiri."

​Biasanya, aku akan mendengarkan. Aku akan menjadi dinding tempatnya memantulkan emosi. Tapi hari ini, entah mengapa, sesuatu di dalam diriku patah. Mungkin karena aku melihat pria itu tadi, mungkin karena aku lelah berpura-pura bahwa hubungan kami ini "normal", atau mungkin karena aku sadar bahwa aku sedang diperlakukan bukan sebagai mitra, melainkan sebagai pelampiasan.

"Lalu apa yang kamu inginkan dari saya, Citra?" suaraku datar, hampir tanpa emosi.

Lihat selengkapnya