Malam itu, sunyi di kontrakanku terasa mencekam. Saat ponselku bergetar, aku sudah tahu itu dia. Nama "Citra" muncul di layar, dan hatiku berdegup dengan ritme yang tidak menentu. Aku mengangkatnya, berharap suaranya tenang, tapi yang kudengar justru napas yang berat dan penuh emosi.
"Yos," suaranya serak. "Aku sudah memikirkannya seharian. Entah bagaimana, aku merasa benar-benar cinta padamu. Aku merasa seolah aku ini... mati kalau tidak ada kamu."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa pretensi, tanpa filter. Aku terdiam, mataku menatap dinding kamar yang kosong. "Citra, tolong..."
"Jangan potong aku," potongnya cepat. "Aku ingin kamu mendengarkan. Besok malam, keluarga pria itu akan datang. Semua orang mengharapkan kesepakatan pernikahan itu terjadi. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah memutuskan. Besok, aku akan bicara dengan Papi. Aku akan mengatakan semuanya. Aku tidak ingin pernikahan itu, dan aku akan meminta Papi membatalkannya. Aku tidak peduli dengan reaksi mereka, aku tidak peduli dengan gosip yang akan muncul, aku tidak peduli dengan apa pun."
Jantungku terasa berhenti. "Citra, kamu sadar apa yang kamu lakukan? Itu pertaruhan besar. Nama baik keluargamu—"
"Aku tidak peduli dengan nama baik jika itu mengorbankan hidupku!" suaranya meninggi, namun penuh ketulusan yang menakutkan. "Ingat kata-kataku, Yos. Aku harus lakukan ini. Karena kamu satu-satunya laki-laki yang aku cintai. I love you, Yos."
Klik.