Malam itu, di kamar kontrakanku, aku tidak bisa melakukan apa pun selain menatap ponsel yang tergeletak bisu di atas meja. Aku membayangkan apa yang sedang terjadi di kediaman Citra. Di sana, di balik tembok-tembok megah yang menyimpan sejarah panjang keluarganya, sebuah drama yang akan mengubah segalanya sedang berlangsung.
Aku baru tahu detailnya jauh setelah malam itu berakhir, melalui ceritanya yang bergetar lewat sambungan telepon.
Siang harinya, Citra telah menghadapi Papinya. Pertemuan itu panjang dan berat. Papinya Citra, sosok yang selama ini dikenal sebagai pria dengan cara berpikirnya sangat baik, ternyata memiliki sisi yang jauh lebih lembut bagi putri tunggalnya. Dalam ruang kerjanya yang dipenuhi aroma kayu cendana, Papi mendengarkan. Dia tidak marah. Dia hanya menatap Citra dengan tatapan yang menyiratkan pengertian mendalam. Papi sadar, sebagai penerus tunggal, Citra telah memberikan seluruh hidupnya untuk perusahaan. Mungkin, memaksanya masuk ke dalam ikatan pernikahan tanpa cinta adalah dosa terbesar yang bisa dilakukan seorang ayah.
Namun, suasana berbeda drastis saat Mami masuk ke ruangan itu. Mami, wanita yang selama ini dikenal sangat lembut, bahkan kepada asisten rumah tangga sekalipun, tampak hancur. Dia baru saja sibuk mengkoordinasikan staf katering untuk menyambut para tamu elit dan calon besan malam ini. Baginya, pembatalan ini seperti disambar petir di siang bolong. Suaranya meninggi, sebuah nada yang belum pernah Citra dengar sebelumnya. Ia merasa dipermalukan, kecewa, dan tidak menyangka putrinya akan melakukan ini di saat semua persiapan sudah matang.
"Mami, aku tidak bisa!" teriak Citra saat itu.
Butuh waktu bagi Papi untuk menenangkan Mami. Dengan suara yang rendah namun berwibawa, Papi menyadarkan Mami bahwa kebahagiaan anak adalah di atas segalanya, bahkan di atas reputasi sosial yang mereka bangun selama puluhan tahun.
Lalu, malam pun tiba.
Rumah itu dipenuhi oleh keluarga besar dari kalangan elit dan keluarga besar calon besan. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan formalitas dan hierarki. Karena posisi Papinya Citra yang paling sukses, keputusannya selalu menjadi hukum yang tak terbantahkan. Ketegangan memuncak saat makan malam dimulai. Semua orang tampak menikmati hidangan, namun atmosfernya terasa mencekam, seolah ada bom waktu yang siap meledak di tengah-tengah ruang makan yang mewah itu.
Tiba-tiba, Papi berdiri. Suasana hening seketika. Sendok dan garpu yang beradu dengan piring marmer berhenti.