Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #15

Chapter #15 Garis Batas yang Terhapus

​Dunia kantorku telah berubah di siang hari, di depan mata para staf dan rekan kerja, Citra tetaplah Direktur yang tegas dan berwibawa, sementara aku adalah asisten nya yang efisien dan tenang. Kami menjaga jarak yang sempurna; tidak ada tatapan yang terlalu lama, tidak ada obrolan di luar urusan pekerjaan, dan setiap komunikasi dilakukan dengan nada formal. Namun, tepat saat jarum jam menunjuk pukul lima sore, panggung itu turun, dan dunia kami yang sebenarnya baru saja dimulai.

​Citra tidak lagi menggunakan jasa supir pribadinya. Itu adalah perubahan yang cukup membuat staf lain bertanya-tanya, namun tidak ada yang berani bertanya langsung pada sang Direktur. Dia kini mengemudikan mobilnya sendiri—atau lebih tepatnya, membiarkan aku yang berada di balik kemudi saat kami meninggalkan parkiran gedung. Mobil sedan mewahnya kini menjadi ruang privat kami, sebuah gelembung yang membawa kami menjauh dari tuntutan jabatan dan ekspektasi keluarga.

​Sore itu, Jakarta sedang diguyur hujan ringan. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan suasana yang melankolis namun syahdu. Aku fokus menyetir, merasakan getaran halus dari mesin mobil kelas atas ini di bawah telapak tanganku. Di sampingku, Citra duduk tenang, tidak lagi sibuk dengan ponsel atau tumpukan dokumen. Dia sedang memandang ke luar jendela, menatap kerumunan orang yang berlari mencari tempat berteduh.

"Berhenti di pinggir jalan itu sebentar," pintanya tiba-tiba, menunjuk sebuah kedai kopi kecil yang tampak hangat di antara ruko-ruko tua.

​Aku menepi. Tidak ada percakapan bisnis. Tidak ada agenda. Kami hanya duduk di dalam mobil, mendengarkan rintik hujan yang menghantam atap kaca. Inilah rutinitas kami sekarang. Hampir setiap hari, setelah pulang kerja, Citra akan mengajakku berkeliling kota. Kami mengunjungi tempat-tempat acak—taman kota yang sepi, pelataran parkir gedung tinggi yang jarang terjamah, atau sekadar berkendara tanpa tujuan melewati jalanan protokol yang padat.

"Kamu tahu, Yos," suaranya memecah keheningan, sangat kontras dengan hiruk-pikuk suara klakson di luar sana. "Dulu, aku selalu merasa harus menjadi segalanya bagi semua orang. Aku harus jadi putri yang baik bagi Papi dan Mami, direktur yang tangguh bagi karyawan, dan sosok yang sempurna bagi tunanganku. Aku selalu memakai topeng itu bahkan saat aku sendirian di dalam mobil ini."

​Dia menoleh, menatapku lekat-lekat. "Tapi saat bersamamu, aku tidak bisa berpura-pura. Kamu melihatku apa adanya. Bahkan saat aku sedang hancur karena perjodohan itu, kamu melihatnya."

​Aku hanya terdiam, mengangguk pelan sebagai tanda bahwa aku menyimak. Aku merasa takut untuk memotong pembicaraannya, takut akan ke mana arah percakapan ini.

"Dan itu membuatku bertanya-tanya," lanjutnya, suaranya sedikit bergetar. "Kenapa aku merasa seperti ini? Kenapa aku merasa begitu membutuhkanmu di sisiku? Aku sudah memikirkannya berhari-hari, Yos. Aku sudah mencoba mencari logika di balik perasaanku, tapi tidak ada. Aku mencintaimu. Entah bagaimana, aku benar-benar mencintaimu."

​Aku menoleh padanya. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, matanya berkaca-kaca. Pengakuan itu terasa sangat berat, seperti beban sekaligus pembebasan.

"Citra..." aku memulai, mencoba mencari kalimat yang tepat, "kamu tahu situasinya. Kita tidak berada di dunia yang sama. Dan hubungan ini... ini tidak mudah."

"Aku tidak minta kemudahan!" potongnya cepat, namun nadanya tidak lagi marah, melainkan memohon. "Aku tidak peduli apakah kamu mencintaiku balik atau tidak. Aku tidak peduli apakah dunia akan mencaci maki kita nantinya. Yang aku tahu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lagi. Kamu mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari siapa pun di lingkungan ku ini. kejujuran. Kamu mengajariku bahwa tidak apa-apa untuk menjadi manusia biasa, dengan segala kelemahan dan ketakutannya."

​Dia menggeser duduknya, kini menghadapku sepenuhnya. "Dan ada satu hal lagi. Aku komplain dengan cara bicaramu. Kita sudah sejauh ini, Yos. Jangan lagi memanggilku 'Citra' atau 'Bu' dengan nada formal seperti itu saat kita hanya berdua."

​Aku tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan. "Lalu harus memanggil apa? Kamu yang meminta dulu untuk tidak memanggilmu Bu."

Lihat selengkapnya