Hari-hari berlalu dengan ritme yang semakin intens. Di kantor, kami telah menyempurnakan seni bersandiwara. Kami adalah dua orang yang hanya berinteraksi jika perlu, menjaga jarak profesional yang kaku agar tidak ada mata yang curiga. Namun, segera setelah pintu kantor tertutup atau jam menunjukkan pukul lima sore, topeng itu meluruh.
Di dalam mobil, saat aku memutar kemudi dengan Citra di sampingku, dunianya dan duniaku melebur menjadi satu. Kami tidak lagi berbicara soal target bulanan atau efisiensi departemen. Kami berbicara tentang hal-hal kecil yang membuat hidup terasa layak untuk dijalani.
"Sayang, hari ini melelahkan sekali, ya?" suaranya lembut, memecah kebisingan lalu lintas Jakarta yang macet.
Aku tersenyum, meliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan. "Iya, Sayang. Tapi setidaknya sekarang sudah selesai. Kamu mau makan sesuatu? Atau mau langsung pulang?"
"Langsung pulang saja. Aku hanya ingin bersamamu di dalam mobil ini sedikit lebih lama," jawabnya, menyandarkan kepalanya di bahuku sejenak sebelum kembali duduk tegak.
Panggilan 'Sayang' itu telah menjadi nafas baru bagi kami. Ia tidak lagi terasa asing atau canggung. Ia justru menjadi jangkar, satu-satunya hal yang nyata di tengah dunia yang dipenuhi kepalsuan. Citra tidak lagi menggunakan supir pribadi. Dia memilih untuk menyetir sendiri, atau membiarkanku yang mengambil alih kemudi, sementara dia duduk di sampingku, melepaskan semua beban jabatan yang selama ini menekan pundaknya. Kebahagiaannya terlihat jelas—matanya selalu berbinar, tawanya lebih sering terdengar, dan ada ketenangan yang terpancar dari aura dirinya yang biasanya selalu kaku dan terburu-buru.
Namun, di balik kebahagiaan yang kami rasakan, sebuah badai pelan-pelan sedang mengumpulkan kekuatannya.
Aku tidak menyadari awalnya, tapi Citra mulai sering menerima telepon dari rumah. Wajahnya yang ceria mendadak berubah tegang, atau dia akan menyingkir ke sudut ruangan untuk berbicara dengan nada rendah yang tidak bisa kudengar. Dia tidak pernah memberitahuku apa isinya, tapi dari caranya menggenggam ponsel, aku tahu ada sesuatu yang mengusik kedamaiannya.
Di rumah keluarga Citra, Mami—sebutan yang sering ia ceritakan padaku—mulai mengamati perubahan itu dengan ketajaman seorang detektif yang tidak disadari. Ibunya Citra adalah wanita yang luar biasa lembut, seorang ibu yang selama bertahun-tahun mengelola rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Namun, kelembutan itu bukan berarti dia naif. Dia mengenal putri semata wayangnya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini.
Sejak Citra memutuskan untuk membatalkan pernikahannya yang telah disusun rapi oleh keluarga, Mami memang terlihat terpukul, namun dia memilih untuk memberi ruang. Namun, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan: perubahan perilaku Citra yang drastis.
Pak Salim, supir pribadi Citra yang biasanya setia mengantar-jemputnya, kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan membantu staf rumah membersihkan rumah. Dia tidak lagi disibukkan dengan jadwal padat Citra di kantor dan urusan pekerjaan di luar kantor. Dia hanya membersihkan taman, merapikan garasi, atau sekadar duduk menunggu. Mami, yang peka terhadap lingkungan sekitarnya, mulai menyadari keanehan ini.
"Pak Salim," panggil Mami suatu sore, saat dia sedang menyirami bunga-bunga di teras.
"Ya, Nyonya?" Pak Salim bangkit berdiri dengan sigap.