Kantor hari ini terasa berbeda. Bukan karena beban kerja yang berkurang, melainkan karena atmosfer yang seolah menekan dada. Biasanya, aku akan merasa antusias saat menatap layar komputer, membayangkan bahwa sore nanti aku akan menghabiskan waktu bersama Citra di dalam mobilnya. Namun, sejak pagi tadi, firasatku terusik. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di tengkuk, sebuah naluri purba yang mengatakan bahwa sesuatu sedang berubah di luar sana.
Aku duduk di mejaku, mencoba berkonsentrasi pada spreadsheet yang terbuka, tapi pikiranku terus melayang pada sosok Citra. Dia tampak lebih tenang, lebih ceria, bahkan sesekali dia mengirimiku pesan singkat yang manis, seolah dia tidak menyadari bahwa di rumahnya, sebuah badai besar sedang dipersiapkan.
Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruang kerja yang luas dengan aroma parfum mahal dan kayu cendana, Mami duduk dengan tegak di kursi kerjanya yang berlapis kulit. Di hadapannya, tergeletak sebuah map coklat tebal. Tidak butuh waktu lama bagi seorang wanita dengan jaringan informasi seluas Mami untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak perlu menggunakan detektif swasta kelas rendahan; dia memiliki akses ke informasi yang bisa menjatuhkan atau mengangkat seseorang dalam hitungan jam.
Mami membuka map itu dengan jemari yang terawat rapi. Matanya, yang biasanya memancarkan kasih sayang, kini menatap kertas-kertas di depannya dengan ketajaman yang dingin dan menghakimi.
Yos Satyanegara.
Itu adalah nama pertama yang dia baca. Kelahiran tahun sembilan belas tujuh puluh sembilan. Usianya beda hampir enam tahun dari Citra. Mami mengerutkan kening. Pria ini bukan lagi pemuda yang sedang mencari jati diri; dia adalah pria yang sudah membentuk karakternya. Mami terus membalik halaman. Latar belakang pendidikan yang baik, pernah bekerja di perusahaan multinasional Amerika, punya track record yang kompeten.
Namun, saat matanya sampai pada bagian status pernikahan, rahang Mami mengeras. Cerai hidup. Ada satu anak.
Mami melepaskan kacamata bacanya dan memijat pelipisnya. Pikirannya mulai berputar cepat, kepalanya berpikir berdasarkan prasangka yang sudah tertanam kuat di kepalanya. "Cerai? Punya anak?" gumamnya lirih, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. Dia tidak melihat seorang pria yang pernah gagal dalam pernikahan dan sedang mencoba bangkit; dia melihat sebuah risiko, sebuah catatan kaki yang kotor dalam sejarah hidup putrinya.
Lalu, matanya tertuju pada kolom agama. Islam.
Mami terdiam cukup lama. Dia adalah salah satu donatur terbesar bagi gereja di pusat Jakarta. Keluarganya telah membangun reputasi selama berpuluh-puluh tahun sebagai pilar komunitas elit kristiani. Perbedaan itu—sebuah tembok yang tak terlihat namun sangat tebal—terasa begitu nyata di matanya. "Agama..." bisiknya lagi. Dunianya seolah terguncang. Bagaimana dia bisa menjelaskan ini pada kolega-koleganya, pada keluarga besar, dan pada Tuhan yang selama ini dia sembah dalam setiap doa untuk kebaikan keluarganya?
"Anakku... anakku yang malang," gumam Mami, dengan kesimpulan sepihak yang sudah dia kunci rapat di otaknya. "Dia tidak mungkin jatuh cinta pada pria seperti ini dengan kesadarannya sendiri. Pasti ada sesuatu. Pasti dia sedang dimanipulasi."
Mami tidak melihat Citra sebagai wanita dewasa yang bisa memilih. Dia melihat Citra sebagai pion yang sedang ditarik oleh musuh. Dia mulai membangun pikiran di kepalanya. Pria ini, Yos, pasti tahu bahwa Citra adalah penerus tunggal kekayaan keluarga. Dia tahu Citra baru saja membatalkan pernikahan yang mewah dan sedang dalam kondisi emosional yang labil. Pria ini pasti telah memanfaatkan momen itu, mendekati Citra saat dia merasa kesepian.
Itu dia, pikir Mami. Yos ini adalah seorang manipulator. Dia memanfaatkan kekosongan anakku.
Mami berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman rumahnya yang luas. Dia bisa melihat Pak Salim, supir pribadi Citra, sedang duduk di pos satpam, tampak tidak melakukan pekerjaannya. Kemarahan Mami semakin meluap. "Dia membuat Citra tidak memakai supirnya sendiri? Atau mungkin dia yang menyuruh Citra untuk tidak menggunakan supir, supaya dia bisa berduaan dengannya di dalam mobil?"
Pikiran-pikiran itu mulai beracun, merambat ke setiap sudut logika Mami. Dia teringat kembali pada hari Citra membatalkan pernikahan dengan tunangannya. Jangan-jangan, pikir Mami dengan kengerian yang semakin menjadi-jadi, jangan-jangan Citra membatalkan pernikahan itu bukan karena dia tidak mencintai tunangannya, tapi karena pria ini—Yos—sudah lebih dulu mencuci otaknya? Jangan-jangan pria ini yang menjadi penyebab keretakan dan pembatalan itu?
Mami mulai merangkai sendiri pikiran di dalam kepalanya dimana Citra, putri semata wayangnya, seorang wanita berpendidikan tinggi dari Los Angeles, kini telah berubah. Dia ceria, dia terlihat bahagia, tapi bagi Mami, kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang menyesatkan. Mami merasa putrinya telah menjadi "pelakor" atau setidaknya perusak hubungan orang lain di masa lalunya—sebuah narasi yang dia buat sendiri untuk membenarkan kebenciannya pada Yos. "Membatalkan pernikahan terhormat demi pria yang sudah pernah gagal dalam rumah tangganya sendiri? Pria yang sudah punya anak? Ya Tuhan, apa yang sudah kamu lakukan, Citra?"
Malam itu, saat Citra pulang ke rumah, suasana rumah terasa sangat mencekam. Mami duduk di meja makan, menatap kursi kosong di depannya. Saat Citra masuk, dia tidak langsung menyapanya dengan senyuman seperti biasa. Mami membiarkan putrinya merasakan ketegangan itu.
"Kamu pulang terlambat lagi," suara Mami datar namun tajam seperti silet.
Citra, yang masih membawa sisa-sisa kebahagiaan dari percakapan sore tadi, tertegun. "Tadi ada sedikit kendala teknis di kantor, Mami."
"Kendala teknis? Atau kamu memang sengaja menghabiskan waktu dengan seseorang?" Mami menatap langsung ke mata putrinya. Dia ingin melihat ada kepanikan di sana, atau setidaknya tanda-tanda rasa bersalah. Tapi yang dia lihat hanyalah kebingungan.
"Maksud Mami apa?" tanya Citra, mencoba tetap tenang.