Beberapa minggu terakhir ini, kehidupan Citra menjadi sebuah rahasia yang ia bangun sendiri. Ia tahu bahwa hubungannya denganku adalah sebuah keadaan yang sulit diterima di mata keluarganya. Ketegangan yang semakin meningkat di rumah, tatapan tajam ibunya Citra yang selalu mengawasi, dan dinding penghalang status sosial yang begitu tinggi, membuat Citra merasa terpojok. Namun, alih-alih menyerah, ia justru mencari jalan keluar ke arah yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Citra tidak hanya sekadar mencintaiku; ia ingin memahami duniaku. Ia mulai diam-diam mencari tahu tentang keyakinanku. Ia mendekati beberapa teman dekatnya yang ia percayai, orang-orang yang memiliki pengetahuan agama yang baik. Awalnya, ia hanya bertanya tentang nilai-nilai, tentang bagaimana seorang Muslim memandang kehidupan, dan tentang bagaimana caranya menemukan kedamaian di tengah dunia yang begitu materialistis.
Tanpa sepengetahuanku, proses itu berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual yang sangat personal. Citra menemukan kedamaian yang selama ini tidak bisa ia dapatkan di balik kemewahan hidupnya. Ia mulai belajar shalat, belajar tentang sujud yang merendahkan hati, dan belajar bahwa di hadapan Tuhan, status sosial tidak memiliki arti.
Keputusan itu diambil bukan karena tekanan, melainkan karena keyakinan yang tumbuh dari keinginan untuk benar-benar mengerti aku. Dan akhirnya, dalam sebuah prosesi yang sunyi dan syahdu di rumah temannya, Citra mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi seorang Muslimah. Itu adalah rahasia terbesarnya, kejutan yang ingin ia simpan rapat-rapat untuk diberikan kepadaku saat waktunya tiba.
Di rumahnya yang megah, Citra berubah menjadi pribadi yang lebih teduh. Ia sering mengunci diri di kamar dengan alasan ingin beristirahat, padahal ia sedang belajar melafalkan ayat-ayat suci dan melakukan shalat lima waktu secara sembunyi-sembunyi. Mukenah—kain tipis yang menjadi simbol ibadahnya—ia simpan dengan sangat rapi di dalam lemari pakaiannya, di balik tumpukan gaun-gaun mahalnya. Baginya, itu adalah harta yang jauh lebih berharga daripada perhiasan apa pun yang ia miliki.
Namun, dunia yang ia bangun dengan hati-hati itu tidak bertahan lama.
Hari itu, suasana rumah sedang tidak menentu. Mami, yang kecurigaannya semakin memuncak sejak mengetahui kedekatan kami, menjadi jauh lebih agresif. Ia mengawasi setiap gerak-gerik Citra dengan tatapan yang seolah-olah sedang mencari tau dengan serius. Citra, yang merasa lelah dengan tekanan yang ada, mencoba mencari ketenangan di kamarnya.
Siang itu, ia berniat menunaikan salat Zuhur. Ia mengunci pintu kamar, mengenakan mukenah putihnya yang bersih, dan berdiri di atas sajadah kecil yang ia sembunyikan di balik lemari. Untuk beberapa saat, dunia di luar sana menghilang. Ia merasa tenang, merasa utuh, dan merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan keras. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka ternyata Citra lupa mengunci pintu kamarnya. Mami masuk ke dalam dengan wajah kaget yang penuh kemarahan—sebuah akumulasi dari kebenciannya terhadapku yang ia tumpahkan pada putrinya.
"Citra! Mami sudah bilang, kita harus bicara soal—"