Villa keluarga yang mewah di Puncak itu berdiri megah, dikelilingi kabut tebal yang turun lebih cepat dari biasanya. Namun, bagi Citra, keindahan arsitektur dan pemandangan lembah di luar sana tidak ada artinya. Ia ditempatkan di sebuah ruangan kosong di lantai dua, sebuah kamar yang sengaja dikosongkan dari segala perabotan, kecuali sebuah kursi kayu keras di tengah ruangan. Tidak ada televisi, tidak ada ponsel, tidak ada akses ke dunia luar. Hanya dinding putih yang memantulkan kesunyian, dan suara angin yang menderu di luar jendela, menambah rasa dingin yang meresap hingga ke tulang.
Mami telah menelepon seluruh kerabat besar—paman, bibi, dan sepupu-sepupu senior yang dianggap memiliki "wibawa" dalam keluarga. Villa ini bukan lagi tempat liburan, melainkan ruang sidang darurat. Satu per satu, anggota keluarga masuk ke ruangan itu, bergantian melakukan apa yang mereka sebut sebagai "penyadaran".
Citra dipaksa duduk tegak di atas kursi kayu itu selama berjam-jam. Pikirannya dipaksa untuk terus merenung, memutar kembali setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia buat. Setiap anggota keluarga yang masuk tidak datang dengan pelukan, melainkan dengan cercaan dan argumen yang menghantam mentalnya.
"Citra, kamu itu penerus keluarga. Bagaimana bisa kamu menodai kehormatan ini dengan mengikuti ajaran yang tidak seharusnya?" ujar seorang bibi dengan nada dingin.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya sedang dipermainkan. Pria itu, si Yos itu, pasti menggunakan pelet atau cara-cara kotor. Dia hanya ingin hartamu!" seru seorang paman, memikirkan sesuatu yang dianggap logis hingga Citra bisa senekat itu.
Citra hanya bisa menunduk. Air matanya sudah kering, namun rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang. Di tengah gempuran kata-kata itu, ia menutup matanya, berusaha mencari ketenangan dalam doa yang kini telah menjadi bagian dari napasnya. Dalam hati, ia terus berbisik, memohon maaf kepada Tuhan, dan memohon maaf kepada Yos.
Maafkan aku, Yos, batinnya, dengan suara yang begitu pilu. Aku yang membawa masalah ini ke dalam hidupmu. Kamu tidak salah. Kamu pria paling tulus yang pernah kukenal. Semua prasangka mereka, semua tuduhan keji tentang kamu... itu salah. Mereka tidak mengenalmu. Mereka tidak tahu betapa kamu berjuang untuk menjaga harga dirimu sendiri kemajuan diriku.
Citra merasa hatinya hancur bukan hanya karena tekanan keluarga, melainkan karena rasa bersalah yang luar biasa. Ia tahu, setiap hinaan yang dilemparkan keluarga kepadanya dan Yos adalah proyeksi dari kebencian mereka. Mereka tidak melihat Citra sebagai wanita yang menemukan kedamaian; mereka melihatnya sebagai korban dari "penyihir" bernama Yos Satyanegara.
Aku mencintaimu, Yos, bisiknya dalam diam. Semoga kamu tidak apa-apa di sana. Semoga mereka tidak menyakitimu.
Sementara itu, di Jakarta, atmosfer di kantormu terasa sangat ganjil. Hari itu aku menyelesaikan pekerjaan dengan perasaan tidak tenang. Sepanjang hari, perasaanku seolah ditarik ke arah yang tidak jelas. Citra tidak ada di kantor. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada notifikasi yang biasa menjadi pelipur lara dalam hari-hariku yang berat.
"Apa dia sakit?" tanyaku pada diriku sendiri.
Sepulang kerja, kakiku melangkah tanpa komando menuju rumah Citra. Aku merasa perlu memastikan dia baik-baik saja. Namun, saat aku sampai di depan pagar rumahnya yang besar, pemandangan itu membuat darahku seolah membeku. Rumah itu kosong. Lampu-lampu taman yang biasanya menyala terang, kini padam sebagian. Tidak ada mobil Citra di garasi. Tidak ada aktivitas asisten rumah tangga yang biasanya sibuk di halaman.
Gerbangnya terkunci rapat. Aku mencoba meneleponnya lagi, tapi ponsel itu tetap tidak aktif. Centang satu.
"Citra, di mana kamu?" suaraku serak, tenggelam dalam kebisingan jalanan kota.