Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #20

Chapter #20 Pelindung di Tengah Badai

​​Mobil mewah yang membawa Papi merayap memasuki pelataran villa di Puncak. Begitu mesin dimatikan, suasana hening di luar tampak menipu. Halaman parkir yang luas itu dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah milik keluarga besar. Pemandangan itu adalah manifestasi dari kekuasaan, status, dan tekanan sosial yang sedang menghimpit Citra di dalam sana. Papi menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena firasat buruk. Ia tahu, di balik dinding-dinding kokoh villa ini, sedang terjadi sesuatu yang tidak sehat bagi putrinya.

​Begitu Papi melangkah keluar, Mami—yang sudah menunggu dengan wajah sembab dan riasan yang berantakan—langsung berlari menghambur ke pelukannya. Isak tangis Mami pecah seketika, menggema di pelataran yang dingin dan berkabut.

"Pi... Papi harus melakukan sesuatu! Anakmu... dia sudah benar-benar hilang akal!" raung Mami di sela-sela tangisnya.

​Papi memeluk bahu istrinya dengan sigap, berusaha tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Tenang, Mih. Tenang. Ceritakan perlahan kepada Papi, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Anakmu itu, Pi... gara-gara laki-laki brengsek itu, dia membatalkan rencana pernikahannya! Dan sekarang? Dia mengaku dirinya menjadi seorang Muslim! Semua itu gara-gara laki-laki itu, Pi! Dia sudah mencuci otak Citra!" Mami terus menangis emosional, meluapkan seluruh kebencian dan ketakutannya di depan para kerabat yang mulai berkerumun.

​Papi memandang sekeliling. Ia melihat wajah-wajah kerabat besarnya yang memandang dengan penuh penghakiman, seolah mereka sedang berada di ruang sidang. Papi tidak banyak bicara. Ia melepaskan pelukan Mami dengan lembut namun tegas.

"Di mana Citra?" tanya Papi singkat.

"Di lantai dua. Aku menyuruhnya duduk di bangku di ruang kosong itu untuk merenung. Dia harus sadar akan kesalahannya!" jawab Mami dengan nada yang masih berapi-api.

​Tanpa membuang waktu, Papi tidak meladeni debat kusir dengan kerabat-kerabatnya yang mulai berbisik-bisik. Ia melangkah tenang, namun setiap langkahnya memancarkan otoritas yang tidak terbantahkan. Ia naik ke lantai dua, menaiki anak tangga kayu yang berderit pelan, menuju ruangan yang telah ditetapkan sebagai "ruang hukuman" bagi putri semata wayangnya.

​Sesampainya di depan pintu kayu tua itu, Papi berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam, memantapkan hatinya. Saat pintu terbuka, pemandangan di dalam ruangan itu menghantamnya dengan telak. Ruangan itu kosong melompong. Hanya ada satu kursi kayu di tengah, dan di sana, Citra duduk bersimpuh, tampak begitu kecil dan rapuh.

​Air mata Papi, yang selama ini ia tahan, mengalir tanpa bisa dibendung. Pemandangan putrinya yang selama ini selalu tampil anggun dan percaya diri, kini hancur berkeping-keping, benar-benar menyayat hatinya. Tanpa sepatah kata pun, Papi menghampirinya. Ia tidak menuntut penjelasan, tidak pula memarahinya. Ia langsung merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan yang hangat dan protektif.

​Tangis Citra pecah seketika. Pertahanan yang ia bangun sepanjang hari runtuh saat merasakan dekapan ayahnya.

"Maafkan Papi, Sayang. Papi datang terlambat," bisik Papi, suaranya parau karena menahan tangis.

"Papi..." isak Citra, suaranya tercekat. "Aku minta maaf sudah membuat Papi susah."

Lihat selengkapnya