Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #21

Chapter #21 Ambang Kehancuran

Pagi di Puncak selalu dingin, dengan kabut tebal yang menyelimuti villa mewah itu, seolah ingin menyembunyikan kekacauan yang terjadi di dalamnya. Di dalam kamar utama, suasana sangat kontras dengan cuaca di luar. Ada kedamaian yang aneh, kedamaian yang hanya bisa diciptakan oleh kehadiran seseorang yang benar-benar peduli.

​Papinya Citra tidak beranjak dari sisi tempat tidur. Ia terus berjaga di sana, memastikan Citra tidak sendirian saat mimpi buruk datang menyerang. Ketika Citra akhirnya membuka mata, tubuhnya terasa seolah dihantam beban berat. Kelelahan luar biasa setelah semalam suntuk diinterogasi dan ditekan secara psikis oleh keluarganya masih membekas. Namun, saat ia melihat sosok Papi yang duduk di dekatnya, sebuah senyum tipis—senyum yang paling tulus—muncul di bibirnya.

"Sudah bangun, Sayang?" suara Papi begitu lembut, kontras dengan wibawa yang biasanya ia pancarkan saat memimpin rapat direksi.

​Citra mengangguk pelan, lalu bangkit dengan susah payah. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Papi dan memeluknya erat. Ia ingin menyerap kekuatan dari ayahnya. Pelukan itu berlangsung lama, sebuah pelukan yang penuh dengan pengakuan tanpa kata.

​Pelan-pelan, dengan suara yang masih serak, Citra mulai menceritakan semuanya. Ia tidak lagi menahan diri. Ia menceritakan siapa Yos sebenarnya, bukan sebagai staf teknis biasa, melainkan sebagai pria yang telah mengubah hidupnya. Ia menjelaskan bagaimana mereka bertemu, mengapa ia bisa jatuh cinta pada kejujuran Yos, dan—yang paling penting—ia meruntuhkan satu per satu tuduhan keji yang dilontarkan oleh Mami dan keluarga besarnya.

​Papi mendengarkan dengan saksama. Ia adalah pendengar yang luar biasa. Ia tidak memotong, tidak menghakimi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksukaan, meski narasi Citra terdengar sangat berbeda dari apa yang ia dengar dari Mami. Sesekali, Papi hanya memberikan anggukan atau pertanyaan kecil untuk memastikan Citra menuangkan semua isi hatinya.

"Oh, Yos Satyanegara?" Papi mengernyitkan dahi saat nama itu disebut. "Sepertinya Papi pernah dengar nama itu sering dibicarakan di kantor akhir-akhir ini."

​Citra menatap Papi dengan mata berbinar. "Papi tahu?"

"Sejak kamu memegang proyek di perusahaan, Papi perhatikan ada peningkatan efisiensi yang drastis. Perencanaan yang biasanya macet, sekarang berjalan dengan lancar. Papi bangga melihat perkembanganmu, Citra."

​Citra menggelengkan kepala, senyumnya melebar. "Semua itu usaha Yos, Pi. Bukan aku. Malah, selama ini aku belajar banyak dari dia. Di kantor banyak sekali orang-orang yang hanya pandai menjilat, yang membuat proposal bagus tapi sebenarnya hanya merugikan perusahaan. Yos satu-satunya yang berani melawan arus, berani merombak sistem yang busuk, dan dia yang membuat perusahaan Papi bisa bangkit seperti sekarang."

​Papi tertegun. Ia tidak menyangka bahwa pria yang dianggap sebagai "hama" oleh istrinya justru adalah otak di balik kesuksesan operasional perusahaannya belakangan ini. "Hebat juga anak itu," gumam Papi, nada bicaranya berubah menjadi kekaguman.

​Citra tertawa kecil, menyengir bangga. "Iya, Pi. Dia hebat. Pilihan Citra pasti hebat. Dia bukan orang sembarangan. Tapi sayang, semua orang di keluarga kita hanya melihat statusnya sebagai duda cerai hidup, dan agamanya. Mereka tidak melihat apa yang ada di dalam dirinya."

Lihat selengkapnya