Villa di Puncak itu seolah tertelan oleh kabut tebal yang turun dari puncak gunung, membungkus setiap jengkal kemewahan di dalamnya dengan rasa dingin yang mencekam. Papi Citra tidak lagi berdebat dengan Maminya. Ia sadar, dalam kondisi emosional Mami yang sudah mencapai titik nadir dan dikelilingi oleh keluarga besar yang menghasut, beradu argumen hanya akan memperparah situasi. Papi mengambil jalan yang lebih tenang, namun penuh dengan tindakan nyata.
Ia turun dari Puncak, berkendara sendirian menuju rumah besar mereka di Jakarta. Selama di perjalanan, pikirannya jernih. Ia tidak memiliki niat sedikitpun untuk bercerai, tidak peduli betapa kerasnya ancaman Mami tadi. Baginya, pernikahan adalah komitmen, namun sebagai seorang ayah, ia juga memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi kebahagiaan putrinya yang selama ini ia abaikan demi menjaga keharmonisan rumah tangganya.
Sesampainya di rumah yang sunyi, Papi Citra melangkah dengan tenang ke kamar Citra. Ia mencari barang-barang yang ditinggalkan putrinya saat dibawa paksa. Ia menemukan ponsel Citra yang tertinggal di atas meja rias, bersama dengan pengisi daya dan buku catatan kecil. Dengan hati-hati, Papi Citra mengumpulkan semuanya ke dalam sebuah tas kerja. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia kemudian mampir ke sebuah toko perhiasan dan aksesoris yang cukup eksklusif di pusat kota. Di sana, ia memilih sebuah tasbih. Bukan tasbih sembarangan, melainkan tasbih yang terbuat dari butiran kayu cendana pilihan dengan ornamen perak yang indah dan elegan. Papi tahu, bagi Citra, benda ini bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol dari keyakinan baru yang ia peluk dengan segenap hati.
Setelah memastikan semuanya lengkap, Papi segera memutar balik kendaraannya kembali ke Puncak. Ia tidak bisa membiarkan anaknya terlalu lama dalam tekanan.
Sesampainya di villa, suasana di lantai satu masih sangat mencekam. Mami sedang duduk di ruang tengah, dikelilingi oleh kerabat-kerabatnya yang terus menabuh genderang perang. Papi tidak menghiraukan mereka. Ia berjalan lurus, menaiki tangga menuju kamar Citra.
Pintu terbuka pelan. Citra sedang terbaring menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, matanya sembab. Saat melihat Papi masuk, raut wajahnya sedikit berubah. Papi meletakkan tas berisi ponsel dan buku catatan itu di sisi tempat tidur. Ia tersenyum—senyum yang menenangkan—lalu mengeluarkan tasbih indah itu dari kotaknya.
"Ini buat kamu, Sayang," ucap Papi, meletakkan tasbih itu ke telapak tangan Citra.
Citra tertegun. Ia memegang butiran kayu yang halus dan wangi itu. Saat ia merasakan dinginnya permukaan tasbih di kulitnya, pertahanannya runtuh. Isak tangis yang tertahan sejak tadi meledak. Ia menggenggam erat tasbih itu di dadanya, seolah itulah satu-satunya jangkar yang menjaga jiwanya agar tidak hanyut. Papi menggenggam tangan putrinya, memberikan kekuatan tanpa perlu banyak bicara. Setelah memastikan Citra merasa sedikit lebih tenang, Papi pun keluar, membiarkan anaknya sendirian.
Begitu pintu tertutup, Citra segera mengambil ponselnya. Baterainya benar-benar mati. Dengan tangan gemetar, ia menyambungkannya ke pengisi daya. Ia menunggu dengan tidak sabar hingga layar menyala. Begitu logo muncul, puluhan notifikasi masuk secara beruntun. Pesan-pesan khawatir dari Yos. Jantung Citra berdegup kencang. Ia ingin menelepon, ia ingin menjelaskan, namun suara-suara teriakan dari lantai bawah membuatnya membeku.
Sayup-sayup, suara Mami terdengar naik satu oktaf, menembus lantai kayu villa.
"Perusahaan itu mati pun aku tidak peduli! Kita jual semua aset! Kita pindah ke Los Angeles! Kita pergi dari negara ini dan tidak usah kembali lagi! Aku malu! Aku malu dengan orang-orang gereja, dengan donatur besar lainnya! Anakku satu-satunya tidak bisa di atur, dan kalian semua diam saja?!"
Citra menutup mulutnya rapat-rapat agar isakannya tidak terdengar. Rencana itu nyata. Mereka akan pergi. Semua akan dijual. Hubungannya dengan Yos bukan hanya terancam, tapi sudah dipastikan akan hancur jika ia tetap mengikuti arus ini.
Dalam kondisi tertekan, dengan baterai ponsel yang hanya terisi beberapa persen, Citra mengambil keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia harus menyelamatkan Yos. Jika Yos tetap bersamanya, pria itu akan hancur oleh kuasa keluarganya. Satu-satunya cara untuk membebaskan Yos adalah dengan membuatnya membenci atau melupakan Citra.
Ia menekan tombol panggil. Tangannya dingin.
Satu dering... dua dering...
"Citra? Ya Tuhan, kamu di mana? Aku khawatir sekali!" Suara Yos di seberang telepon terdengar begitu tulus, begitu cemas, begitu penuh cinta.
Hati Citra serasa disayat sembilu mendengar suara itu. Ia menarik napas dalam, memaksakan suaranya terdengar dingin dan berwibawa, seperti topeng yang dipaksakan.
"Yos," suaranya datar, tanpa emosi.
"Citra? Ada apa? Apa kamu baik-baik saja? Aku sudah datang ke rumahmu kemarin, tapi kosong..."
"Yos, dengarkan aku," potong Citra, memutus kalimat Yos. "Aku dan keluarga besarku akan pindah ke Amerika. Semuanya. Perusahaan, aset di Jakarta, semuanya akan dijual. Aku akan ikut mereka."
Hening. Yos tidak langsung menjawab. Citra bisa membayangkan pria itu sedang terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja dihantamkan padanya.
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa," jawab Yos pelan.