Dunia tidak berhenti berputar hanya karena hatiku hancur. Matahari tetap terbit dari ufuk timur, membakar kota Jakarta dengan panas yang menyengat, menyinari debu-debu yang beterbangan di jalanan, seolah menertawakan kehancuran yang terjadi dalam hidupku. Selama dua minggu pertama setelah Citra pergi, aku adalah hantu di kontrakanku sendiri. Aku makan seadanya, tidur lebih sering karena ingin melarikan diri dari kenyataan, dan menatap layar ponsel yang sunyi, berharap ada keajaiban yang tidak akan pernah datang.
Aku jatuh. Aku jatuh sangat dalam.
Mungkin ini yang dirasakan orang ketika mereka kehilangan segalanya. Bukan hanya kehilangan wanita yang dicintai, tapi kehilangan pondasi hidup yang selama ini kubangun dengan susah payah. Pekerjaan yang kutinggalkan demi "melindungi" Citra kini berubah menjadi bumerang yang menghantam kepalaku. Tabunganku menipis, cicilan kontrakan mulai menagih, dan perutku mulai berontak meminta makan yang lebih layak daripada sekadar mie instan.
Aku teringat kata-kata ibunya Citra di kantor waktu itu—bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Dulu, kata-kata itu memancing amarahku. Sekarang? Kata-kata itu terdengar seperti sebuah fakta yang tak terbantahkan. Tanpa jabatan, tanpa koneksi, dan tanpa Citra di sisiku, aku hanyalah Yos Satyanegara, seorang duda berusia matang yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan pada dunia.
Namun, di tengah kubangan keputusasaan itu, ada satu hal yang menarikku paksa untuk kembali ke permukaan.
Di samping tempat tidurku, tertempel sebuah foto kusam anakku. Dia sedang tersenyum, dengan seragam sekolah yang agak kebesaran. Foto itu bukan sekadar gambar; itu adalah pengingat akan janji yang kubuat pada diriku sendiri. Bahwa aku, sebagai ayahnya, tidak akan membiarkan anakku tumbuh dengan nasib yang sama seperti ayahnya. Anakku harus mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dia harus memiliki masa depan di mana dia tidak perlu mengemis restu orang lain atau dihina karena status orang tuanya.
"Aku tidak boleh begini," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau karena kurang bicara selama berhari-hari.
Aku berdiri, menatap cermin yang retak di kamar mandi. Wajahku terlihat kuyu, kantung mataku menghitam, dan rambutku berantakan. Aku mencuci muka dengan air dingin, mencoba membasuh rasa sedih, rasa malu, dan rasa sesal. Aku harus bangkit. Tidak ada pilihan lain. Jika aku harus merangkak untuk mendapatkan uang, maka aku akan melakukannya. Jika tanganku harus berdarah untuk membiayai sekolah anakku, maka biarlah darah itu mengalir.
Minggu-minggu berikutnya adalah neraka yang nyata. Aku mulai mencari pekerjaan apa saja. Dari melamar kembali ke perusahaan-perusahaan skala kecil, hingga menyebar CV ke warung-warung makan yang butuh tenaga kasar. Tapi, dunia kerja tidaklah ramah. CV-ku terlalu "berat" untuk pekerjaan buruh, dan reputasiku di perusahaan sebelumnya—yang entah bagaimana tersebar, mungkin karena campur tangan orang-orang kepercayaan ibunya Citra yang ingin memastikan aku tidak bisa kembali bekerja—membuat banyak perusahaan menolak ku dengan halus.
"Maaf, Pak Yos. Profil Bapak terlalu tinggi untuk posisi ini," kata salah seorang manajer HRD di sebuah perusahaan distributor logistik.
Aku tersenyum kecut. Terlalu tinggi. Padahal, di dalam hatiku, aku merasa sangat rendah.
Akhirnya, aku membuang semua ijazah dan pengalamanku. Aku melepaskan atribut "mantan karyawan perusahaan Amerika". Aku pergi ke pasar induk di pinggiran kota. Di sana, tidak ada yang peduli tentang masa lalumu atau tentang status duda. Yang mereka pedulikan hanyalah tenaga otot dan kemauan untuk bekerja.
Pekerjaan pertamaku adalah menjadi buruh angkut di gudang sayur-mayur.
Setiap pagi, pukul tiga dini hari, aku sudah berada di sana. Tubuhku yang terbiasa duduk di kursi empuk dan menatap layar komputer, kini harus bergelut dengan karung-karung bawang dan kentang yang beratnya puluhan kilogram. Bahuku perih, tulang punggungku seolah mau patah setiap kali aku menunduk untuk mengangkat beban, dan nafas ku sering tersengal-sengal karena debu dan aroma tanah yang pekat.
Ada kalanya, di tengah malam yang dingin, saat aku sedang memanggul karung berat, aku menangis. Bukan karena lelah, tapi karena rasa perih di hati ini kembali menyeruak. Aku teringat Citra. Aku teringat bagaimana dulu dia duduk di sampingku, menatapku dengan kekaguman yang tulus. Sekarang, apakah dia tahu kalau pria yang dicintainya sedang berkubang dalam debu dan keringat di pasar induk?
Jangan diingat, Yos. Jangan, batinku keras.
Setiap kali bayangan Citra muncul, aku akan memikirkan anakku. Aku membayangkan wajahnya ketika ia menerima beasiswa, ketika ia lulus sekolah, ketika ia bisa membeli buku-buku yang ia inginkan. Bayangan itu adalah bahan bakar yang membuat kakiku tetap melangkah meski rasanya seperti terbakar.