Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #24

Chapter #24 Di Ujung Kelelahan, Harapan Bersemi

Waktu berjalan tanpa belas kasihan. Tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Citra ke Amerika, dan tiga bulan pula aku hidup dalam ritme yang nyaris tidak manusiawi. Jakarta tidak pernah tidur, dan aku pun begitu. Tubuhku sudah terbiasa dengan siklus yang menyiksa dimana bangun subuh untuk melakoni pekerjaan serabutan—kadang sebagai kurir barang, kadang membantu di bengkel kecil—lalu pulang saat malam untuk berhadapan dengan layar laptop tua yang setia menemani perjuanganku.

​Kontrakan kecilku kini lebih mirip dengan gudang logistik daripada tempat tinggal. Kardus-kardus berisi komponen elektronik bekas yang kubeli dari pasar loak berserakan di pojok ruangan. Bau oli, debu, dan aroma kopi hitam sachet yang murah menjadi aroma khas keseharianku. Namun, di tengah kesemrawutan ini, ada satu benda yang selalu tertata rapi yaitu foto anakku yang tertempel di dinding tepat di atas meja laptopku.

​Setiap kali rasa lelah itu datang, saat otot-otot tubuhku terasa seperti ditarik paksa oleh beban kerja harian, aku akan menatap foto itu. Matanya yang polos dan senyumnya yang penuh harapan adalah bahan bakar yang tidak pernah habis. Ayah sedang berjuang, Nak. Ayah sedang membangun tangga agar kamu bisa meraih bintang. Bersabarlah, bisikku dalam hati.

​Dunia mungkin menganggapku pecundang. Mantan manajer perusahaan besar yang kini menjadi buruh serabutan. Teman-teman lama mungkin sudah melupakanku, atau mungkin mereka menertawakan nasibku. Tapi, aku tidak peduli lagi pada opini dunia. Harga diriku tidak lagi ditentukan oleh jabatan atau saldo rekening, melainkan oleh sejauh mana aku bisa bertahan demi masa depan darah dagingku sendiri.

​Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta, menutupi suara ketukan jemariku di atas keyboard. Proyek "Rahasia" yang kubangun—sebuah sistem integrasi efisiensi untuk UKM—sedang menghadapi bug yang cukup rumit. Ini adalah sistem yang sama yang dulu kutawarkan pada direksi perusahaan Citra, namun mereka menolaknya karena menganggapnya terlalu radikal. Kini, aku membangunnya kembali untuk skala yang lebih kecil, lebih ramping, dan lebih efisien.

​Aku sedang frustasi. Mataku perih, kepalaku berdenyut kencang. Aku sudah bekerja selama enam belas jam tanpa henti.

"Ayo, Yos. Kamu tidak boleh kalah oleh kode program," kataku pada diri sendiri, suaraku terdengar serak.

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi email masuk. Aku menahan napas. Ini adalah email dari seorang pemilik usaha konveksi skala menengah yang bulan lalu kutawari untuk mencoba sistem ku secara beta test. Jariku gemetar saat membuka pesan itu.

"Halo Pak Yos, kami sudah mencoba sistem yang Anda instal selama dua minggu terakhir. Jujur, kami tidak menyangka hasilnya seperti ini. Laporan stok barang yang biasanya memakan waktu seharian, sekarang bisa kami lihat dalam hitungan detik. Kami ingin melanjutkan kontrak kerja sama ini. Apakah Anda bersedia menjadi konsultan tetap kami?"

​Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ia sedang mencoba keluar dari rusukku. Ini bukan sekadar uang. Ini adalah validasi. Ini adalah bukti bahwa otakku, kemampuanku, dan keahlianku masih berharga, meski aku tidak lagi memakai setelan jas mahal.

​Aku membalas email itu dengan jari yang sedikit gemetar. Ini adalah langkah kecil, tapi sangat berarti. Ini adalah benih pertama dari pohon yang sedang kucoba tanam.

​Namun, kehidupan tidak pernah membiarkan aku bersantai terlalu lama. Keesokan harinya, saat aku hendak berangkat bekerja di bengkel, pemilik kontrakan datang. Wajahnya masam, tangannya melipat di dada.

"Yos, sudah tiga bulan kamu menunggak bayaran. Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Besok kalau tidak ada uang, silakan angkat kaki dari sini," ucapnya tegas.

Lihat selengkapnya