Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #25

Chapter #25 Menanam Benih di Ladang Gersang

​Jakarta tetaplah Jakarta. Kota ini tidak pernah memberikan ruang bagi mereka yang berhenti melangkah. Namun, entah mengapa, setelah semua badai yang kuhadapi, aku mulai melihat kota ini dengan mata yang berbeda. Dulu, hiruk-pikuknya terasa seperti ancaman yang menekan bahuku. Sekarang, ia terasa seperti ritme hidup yang harus kuikuti.

​Tiga bulan setelah keputusan besarku untuk menjadi mandiri, hidupku benar-benar berubah drastis. Kontrakan sempit ku, yang dulunya terasa seperti penjara, kini telah berubah fungsi menjadi sebuah "kantor" kecil yang produktif sementara ini. Kardus-kardus komponen elektronik yang dulu berserakan kini tertata rapi. Laptop tua yang dulu sering hang, sekarang sudah kutingkatkan spesifikasinya—hasil dari keringatku sendiri.

​Setiap pagi, rutinitas tidak lagi dimulai dengan rasa cemas akan tagihan yang menunggak, melainkan dengan daftar tugas yang harus diselesaikan. Aku masih menjadi pengemudi ojek daring di jam-jam tertentu, tapi itu bukan lagi sumber penghasilan utamaku. Itu hanyalah caraku untuk tetap "membumi," cara bagiku untuk tetap bersentuhan dengan realitas lapangan dan mencari inspirasi dari setiap orang yang kutemui di perjalanan.

​Namun, fokus utamaku adalah sistem perangkat lunak yang kubangun. Proyek "Rahasia" itu—yang kini ku beri nama Efficient Flow—mulai mendapatkan traksi. Bukan lagi sekadar proyek coba-coba, melainkan solusi bisnis nyata.

​Hari ini, aku duduk di depan layar, menatap kode-kode yang membentuk alur kerja perusahaan klien pertamaku. Pikiranku jernih. Tidak ada lagi pikiran yang terpecah antara "bagaimana cara bertahan hidup" dengan "kapan aku bisa tidur." Semuanya sudah terukur. Saat aku berhasil memecahkan satu bug yang cukup rumit, rasa puas itu muncul. Itu adalah perasaan yang berbeda dengan pencapaian korporat dulu. Dulu, pencapaianku hanyalah angka di atas kertas untuk kejayaan perusahaan lain. Sekarang, ini adalah tentang namaku sendiri.

​Aku menarik napas panjang, menatap jendela yang terbuka lebar. Angin sore masuk, membawa aroma hujan yang belum turun.

​Aku bisa melakukannya, batinku. Aku bisa.

​Di belahan dunia yang lain, ribuan mil jauhnya, suasananya sangat kontras. Di Los Angeles, matahari mungkin sedang bersinar terik atau mungkin tertutup kabut tipis di sepanjang pesisir. Citra, yang kini berada di sana, pasti sedang menjalani hari-harinya di dalam "sangkar emas" yang telah dipersiapkan oleh keluarganya.

​Terkadang, di sela-sela pekerjaanku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan dia. Bagaimana dia menghadapi hidupnya sekarang? Apakah dia bahagia? Apakah dia masih sering melihat langit dan mencari jawaban atas pertanyaan yang sama yang dulu sering kami bicarakan?

​Di Jakarta. Aku membayangkan Citra di sana. Dia memiliki segalanya—kemewahan, kenyamanan, status—semua hal yang menurut dunia adalah indikator kesuksesan. Namun, aku tahu, itu bukan hal yang dia cari. Citra mencari kedamaian batin, dia mencari kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Dan di Amerika, di bawah pengawasan keluarga besarnya yang ketat, aku ragu dia mendapatkan itu.

​Suatu malam, aku menemukan sebuah foto lama di folder tersembunyi di ponselku. Foto kami berdua, saat kami terjebak hujan di dekat kantor. Kami tertawa, meskipun basah kuyup. Saat itu, aku merasa dunia milik kami berdua.

​Aku tidak lagi meratap saat melihat foto itu. Aku tersenyum. Senyum yang getir, namun ikhlas.

"Terima kasih, Citra," bisikku pada layar ponsel. "Terima kasih telah membawaku ke titik ini. Jika kamu tidak meninggalkanku, mungkin aku akan selamanya menjadi pria yang bergantung pada sistem, pria yang tidak tahu seberapa kuat dirinya sebenarnya."

​Kepergiannya adalah katalis. Dia memaksaku untuk berdiri dengan kakiku sendiri. Dan sekarang, aku sudah berdiri tegak. Aku sudah tidak lagi membutuhkan belas kasihan. Jika takdir mengijinkan kami bertemu lagi—entah sepuluh tahun lagi, atau dua puluh tahun lagi—aku ingin dia melihat pria yang berbeda. Bukan pria yang "duda," bukan pria "miskin," tapi pria yang memiliki harga diri yang utuh.

​Tiba-tiba, ponselku berdering. Itu panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Lihat selengkapnya