Rumah orang tuaku selalu memiliki aroma yang khas. Aroma kayu tua, harum masakan ibu, dan ketenangan yang tidak pernah bisa ditemukan di hiruk-pikuk Jakarta. Begitu aku melangkah masuk ke pekarangan rumah, suara tawa yang sangat ku kenal menyambutku, memecah kesunyian sore itu. Itu adalah tawa anakku. Tawa yang, tanpa kusadari, telah menjadi melodi paling indah yang pernah kudengar selama bulan-bulan penuh tekanan ini.
Aku melihat Maya—mantan istriku—baru saja hendak memacu mobilnya pergi. Kami sempat berpapasan di gerbang. Ada tatapan yang sulit diartikan di wajah Maya. Mungkin kasihan, mungkin juga sedikit penyesalan, atau mungkin sekadar rasa tanggung jawab sebagai orang tua.
"Yos," sapanya singkat.
"Terima kasih, Maya," jawabku tulus. "Terima kasih sudah membawanya ke sini. Aku tahu ini pasti merepotkan jadwal mu."
Maya mengangguk pelan. "Dia terus merengek kangen Eyang. Dan kurasa... dia juga butuh waktu denganmu, Yos. Dia sering bertanya kenapa Ayahnya jarang terlihat belakangan ini. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya."
Setelah Maya pergi, aku berdiri mematung sejenak, meresapi keheningan yang tersisa. Satu minggu. Aku memiliki waktu satu minggu untuk berada di sini, di bawah atap yang sama dengan anakku. Setelah berbulan-bulan berjuang sendirian di Jakarta, terobsesi dengan proyek perangkat lunak, dihantam badai perasaan karena kepergian Citra mendadak, dan harus bekerja serabutan demi menyambung hidup, waktu satu minggu ini terasa seperti oase di tengah padang pasir.
Aku melangkah masuk ke teras. Di sana, anakku sedang duduk di pangkuan ibuku—eyangnya—sambil bercerita dengan antusias. Begitu melihatku, matanya yang bulat bersinar terang. Dia melompat turun dari pangkuan eyangnya dan berlari ke arahku.
"Ayah!"
Aku berlutut, merentangkan tangan, dan memeluk tubuh kecil itu seerat yang kubisa. Saat pelukannya melingkar di leherku, aku merasakan duniaku berhenti sejenak. Semua masalah, semua tuntutan pekerjaan, semua bayang-bayang Citra, semua rasa sakit hati karena kegagalan masa lalu—semuanya menguap. Yang tersisa hanyalah rasa syukur yang begitu mendalam.
"Ayah kok lama sekali tidak ke sini?" tanyanya dengan nada polos yang menyayat hati.
Aku mengusap rambutnya, berusaha menyembunyikan mataku yang mulai berkaca-kaca. "Ayah sedang bekerja keras di kota, Sayang. Ayah harus menyiapkan masa depan yang baik untukmu. Kamu sudah makan?"
Dia mengangguk semangat, lalu menarik tanganku, mengajakku masuk lebih dalam ke rumah. Hari itu, aku membuang semua identitas profesional ku. Aku bukan lagi konsultan sistem, aku bukan lagi mantan manajer yang jatuh bangun, aku bukan lagi pria yang sedang patah hati. Aku hanyalah seorang Ayah.
Malam harinya, setelah anakku terlelap di kamar yang dulu adalah kamarku saat masih kecil, aku duduk di beranda bersama ayah dan ibuku. Suasana desa yang dingin membuat kami menyeruput teh hangat dalam diam. Ayah menepuk bahuku perlahan.
"Yos, kamu terlihat jauh lebih tenang sekarang," ujar Ayah pelan.
"Mungkin karena aku sudah berhenti berlari, Yah," jawabku sambil menatap langit malam yang bersih, penuh bintang. "Dulu aku merasa harus membuktikan segalanya kepada dunia. Aku ingin menjadi sukses, menjadi orang penting, menjadi pria yang bisa dibanggakan. Tapi aku lupa bahwa sukses yang sebenarnya ada di depan mataku setiap hari."
Ibuku tersenyum, mengelus tanganku. "Ibu tidak butuh kamu jadi orang kaya atau orang sukses secara jabatan, Nak. Ibu cuma ingin kamu bahagia. Dan melihatmu bersama cucu Ibu tadi, Ibu bisa melihat kamu menemukan kebahagiaanmu kembali."