Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #27

Chapter #27 Menanam Tiang yang Kokoh

​Suara deru kereta api yang memasuki Stasiun Gambir terdengar seperti nyanyian selamat datang bagi telingaku. Dulu, setiap kali aku menginjakkan kaki di Jakarta setelah perjalanan jauh, aku selalu merasa terbebani oleh bayangan gedung-gedung tinggi yang seolah menindih pundakku. Tapi hari ini, pemandangan yang sama justru terasa berbeda. Gedung-gedung itu tidak lagi tampak seperti raksasa yang menantang, melainkan seperti hamparan kanvas kosong yang menunggu untuk aku lukis dengan jejak karyaku.

​Aku menghirup udara Jakarta yang penuh polusi dengan napas panjang. Anehnya, udara ini tidak lagi membuatku sesak. Aku telah belajar bahwa hidup bukan tentang lingkungan yang sempurna, melainkan tentang ketangguhan mental untuk tetap tumbuh di lingkungan mana pun.

​Sesampainya di kontrakan, aku tidak langsung merebahkan diri. Aku menyalakan lampu, membuka jendela, dan membiarkan angin sore menyapu debu-debu yang sempat mengendap selama seminggu aku pergi. Tempat ini, yang dulunya terasa seperti lubang persembunyian seorang pria yang kalah, kini telah bertransformasi. Ia adalah basecamp seorang pejuang.

​Aku duduk di kursi kerjaku. Layar laptop yang gelap kini menyala, menampilkan antrian pekerjaan yang menumpuk. Namun, alih-alih merasa tertekan seperti dulu, aku justru merasa bersemangat. Aku memiliki skala prioritas yang jelas sekarang dimana pekerjaanku adalah alat untuk membuktikan integritas, bukan lagi sekadar cara untuk mencari validasi dari orang lain.

​Minggu pertama setelah kembali dari kampung halaman adalah ujian nyata. Banyak klien yang mulai mencari-cari karena sistem yang kubangun sempat mengalami kendala teknis kecil saat aku pergi. Di masa lalu, aku mungkin akan panik, memaki diri sendiri, atau merasa tidak becus. Namun, kali ini, aku menghadapinya dengan kepala dingin.

​Aku mendatangi salah satu klien, sebuah usaha distributor kecil yang sedang kewalahan dengan sistem inventori mereka. Saat aku masuk ke kantor mereka, sang pemilik usaha tampak panik.

"Pak Yos, saya khawatir sistemnya crash lagi. Bisa tidak diperbaiki cepat?"

​Aku tersenyum, meletakkan tas kerjaku dengan tenang. "Tenang, Pak. Mari kita cek bersama. Saya ada di sini untuk memastikan semuanya berjalan lancar."

​Selama berjam-jam, aku tidak hanya memperbaiki kode-kode yang bermasalah, tapi aku juga mengedukasi staf mereka. Aku tidak hanya memberikan "ikan", tapi juga "pancingnya". Aku menyadari bahwa nilai jualku bukan hanya sebagai pembuat perangkat lunak, tapi sebagai pemecah masalah (problem solver). Integritas yang kutanamkan—bekerja jujur, memberi solusi yang efisien, dan tidak memanipulasi keadaan—mulai membuahkan hasil. Mereka mempercayai ku.

​Dan yang lebih penting, aku mempercayai diriku sendiri.

​Di tengah kesibukan itu, sesekali bayangan Citra melintas. Aku teringat masa-masa kami berdiskusi tentang strategi perusahaan. Namun, bedanya sekarang, bayangan itu tidak lagi membawa rasa sakit yang menusuk. Ia menjadi semacam kenangan manis—sebuah lembaran dalam hidup yang telah membentuk diriku yang sekarang. Aku tidak lagi berharap dia kembali untuk melengkapi hidupku. Aku sudah lengkap. Jika dia kembali, itu adalah bonus. Jika tidak, aku sudah memiliki duniaku sendiri.

​Keesokan harinya, aku mendapat sebuah panggilan telepon yang tidak terduga. Itu bukan klien baru, melainkan seorang mantan rekan kerjaku dari perusahaan besar tempatku bekerja dulu.

"Yos? Benarkah ini Yos Satyanegara?" suaranya terdengar ragu.

"Iya, ini saya. Ada apa, Pak?"

"Saya dengar dari vendor di lapangan bahwa kamu sekarang mengerjakan sistem efisiensi untuk beberapa UKM dengan hasil yang luar biasa. Bahkan, mereka bilang kinerjanya jauh lebih stabil daripada software mahal yang kita beli dari luar negeri saat kamu masih di kantor dulu."

Lihat selengkapnya