Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #28

Chapter #28 Integritas di Atas Segalanya

​​Pagi itu, suasana di "kantor" kecilku—yang kini telah resmi memiliki nama usaha sendiri—terasa begitu produktif. Meja-meja yang tadinya kosong kini telah ditempati oleh dua orang staf baru: Aldi, anak muda yang dulu kutemui di komunitas, dan seorang rekan desain grafis berbakat yang juga sedang merintis karier. Ruangan ini tidak mewah, hanya sebuah ruko kecil di sudut Jakarta yang disewa dengan hasil kerja keras beberapa bulan terakhir. Namun, bagiku, ruko ini adalah istana.

​Aku berdiri di dekat jendela, menyesap kopi hitam tanpa gula, menatap keluar ke arah jalanan yang mulai macet. Dulu, kemacetan Jakarta selalu memberiku perasaan sesak, seolah-olah waktu sedang dicuri dariku. Namun sekarang, aku melihatnya sebagai detak jantung kota yang memberi energi. Aku punya tanggung jawab baru sekarang. Aku bukan lagi hanya memikirkan diriku sendiri atau bagaimana cara melunasi cicilan. Aku memikirkan gaji stafku, keberlangsungan bisnis mereka, dan kepercayaan klien yang harus kujaga.

"Pak Yos, kode untuk sistem inventori klien yang dari Kalimantan sudah siap untuk tahap testing pertama," suara Aldi memecah lamunanku.

​Aku berbalik dan tersenyum. Aldi telah banyak berubah sejak aku membimbingnya. Dulu, dia adalah anak muda yang pintar tapi kaku, selalu ingin mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalah teknis. Kini, dia mulai memahami filosofi ku yaitu tidak ada jalan pintas dalam membangun kepercayaan.

"Bagus, Aldi. Tapi ingat, jangan hanya mengejar fungsinya yang jalan," kataku sambil berjalan mendekati mejanya. "Coba cek lagi efisiensinya. Jika kita bisa membuat sistem ini berjalan 20% lebih ringan, itu akan sangat membantu klien dalam jangka panjang. Mereka tidak perlu keluar uang lebih untuk upgrade server."

​Aldi mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya akan coba optimasi lagi."

​Aku kembali ke meja kerjaku. Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari seorang kenalan lama, seseorang yang dulu pernah bekerja satu divisi denganku di perusahaan besar sebelum aku mengundurkan diri karena masalah internal.

“Yos, kamu sibuk? Ada proyek besar dari pihak ketiga. Mereka butuh konsultan untuk audit performa sistem perusahaan logistik besar. Bayarannya besar sekali, Yos, bisa nutup operasional kantor mu selama setahun. Tapi ada syaratnya, mereka minta hasil auditnya dibuat 'fleksibel' agar pihak manajemen bisa menutupi defisit anggaran operasional tahun lalu.”

​Jantungku berdegup kencang, bukan karena tawaran uangnya, melainkan karena godaan yang terselip di dalamnya. Ini adalah tawaran yang akan mengguncang iman profesionalisme siapa pun yang sedang merintis usaha. Uang sebesar itu bisa mengubah segalanya. Aku bisa menyewa kantor yang lebih besar, membeli perangkat keras terbaru, bahkan memberikan bonus besar untuk stafku.

​Namun, saat aku membaca kata "fleksibel", aku tahu apa maksudnya. Mereka ingin aku memanipulasi data. Mereka ingin aku berbohong.

​Dulu, mungkin aku akan mempertimbangkan ini dengan alasan "demi bertahan hidup". Dulu, aku akan mencari seribu satu pembenaran untuk melakukan hal yang salah. Tapi sekarang? Sosok Yos yang dulu—pria yang hancur, yang kehilangan pekerjaan, yang merasa dunia tidak adil—telah belajar bahwa kehormatan diri adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.

​Aku memejamkan mata sejenak, mengingat kembali masa-masa terpuruk ku. Saat aku harus menjadi buruh angkut di pasar, saat kakiku sakit karena kecelakaan ojek, saat aku merasa dunia sudah tamat. Di masa-masa itulah aku belajar bahwa ketika seseorang tidak punya apa-apa, yang tersisa hanyalah harga dirinya. Jika harga diri itu pun dijual, maka habislah dia.

​Aku membuka mata, mengetik balasan dengan tenang namun tegas.

Lihat selengkapnya