Jakarta, seperti biasa, adalah mesin yang tidak pernah mati. Namun, kini aku bukan lagi sekadar salah satu bagian dari roda giginya; aku mulai menjadi penggerak. Jadwalku belakangan ini menjadi sangat padat. Undangan untuk menjadi pembicara dalam seminar pengembangan bisnis UKM, diskusi panel tentang integrasi digital, hingga diundang sebagai narasumber dalam program streaming media ekonomi bisnis, kini silih berganti mengisi kalender kerjaku.
Setiap kali aku berdiri di atas panggung—entah itu di ruang seminar hotel berbintang atau di depan kamera studio—aku selalu teringat masa-masa di mana aku harus memanggul karung di pasar induk. Kontras itu selalu mengingatkanku untuk tetap membumi. Aku berbicara bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk memberikan solusi. Aku berbicara karena aku tahu, di luar sana, ada ribuan pemilik usaha kecil yang sedang berjuang, sama seperti aku dulu.
Dalam beberapa bulan terakhir, sebuah pola mulai terbentuk. Di setiap acara besar yang kuhadiri, aku sering merasa ada sepasang mata yang memperhatikanku. Bukan tatapan memuja seperti penggemar, bukan pula tatapan sinis dari pesaing. Itu adalah tatapan yang tenang, penuh pengamatan, dan sarat akan rasa hormat.
Wanita itu.
Pertama kali aku menyadarinya adalah saat sebuah seminar di Jakarta Selatan. Di barisan tengah, ada seorang wanita muda dengan aura yang begitu elegan. Dia tidak aktif bertanya, tidak juga berusaha mencuri perhatian dengan suara keras. Dia hanya duduk dengan postur yang sangat tegap, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulutku dengan seksama. Saat sesi tanya jawab selesai dan mata kami tak sengaja bertemu, dia tidak membuang muka. Sebaliknya, dia tersenyum lembut, sedikit menundukkan kepala—sebuah gestur rasa hormat yang sangat tulus—sebelum kemudian kembali fokus pada catatannya.
Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin dia adalah peserta biasa yang tertarik pada materi. Namun, dua minggu kemudian, di sebuah acara diskusi streaming media ekonomi, aku melihatnya lagi. Dia duduk di jajaran kursi tamu VIP. Masih dengan aura yang sama, masih dengan ketenangan yang sama. Lagi-lagi, saat mata kami bertemu, senyuman lembut dan tundukan kepala hormat itu kembali ia berikan.
Rasanya seperti ada seseorang yang sengaja ingin memastikan bahwa aku tahu dia ada di sana. Bukan untuk mengganggu, melainkan untuk menegaskan kehadirannya.
Penasaran, aku sempat bertanya pada panitia di sana. "Siapa wanita yang duduk di kursi baris depan itu? Yang mengenakan blazer krem itu?"
Panitia itu melirik sekilas. "Oh, itu? Dia cukup dikenal di kalangan pengusaha muda. Namanya Arini. Dia memang sering hadir di acara-acara pengembangan bisnis untuk memperluas jaringan. Kenapa, Pak Yos? Ingin saya kenalkan?"
Aku menggeleng. "Tidak, hanya merasa familiar saja."
Namun, dunia ini memang sempit. Pertemuan tidak dengan rencana, melainkan karena arus kerumunan.
Suatu sore, setelah aku selesai mengisi presentasi di sebuah acara gala bisnis, aku sedang berdiri di area networking, memegang segelas air mineral sambil mengobrol dengan salah satu klien. Tiba-tiba, suasana di sekitarku terasa sedikit berbeda. Arini berjalan ke arahku.
Jaraknya semakin dekat, dan aku bisa melihatnya dengan lebih jelas sekarang. Tingginya proporsional, cara berjalannya sangat luwes dan penuh percaya diri—sebuah keanggunan yang jarang dimiliki orang biasa. Dia tidak terlihat seperti pebisnis yang sedang sibuk mengejar target, tapi lebih seperti seseorang yang memiliki kendali penuh atas dunianya.
Dia berhenti tepat di hadapanku setelah klienku pamit untuk pergi.
"Selamat sore, Pak Yos," suaranya tenang, rendah, dan sangat artikulatif.