Kafe itu tidak terlalu ramai. Hujan rintik-rintik di luar jendela besar memberikan efek isolasi yang sempurna, menciptakan suasana privat di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Aku duduk di salah satu sudut, menyesap americano hangat ku, menunggu kedatangan Arini. Kami sudah sepakat untuk bertemu, dan ini bukan lagi pertemuan pertama kami.
Sejujurnya, jika ada yang melihat kami dari kejauhan, mungkin mereka akan bertanya-tanya. Aku, seorang pria yang sudah matang, dengan segala guratan pengalaman hidup di wajahku, duduk bersama Arini—seorang wanita yang tampak jauh lebih muda, dengan gaya yang selalu chic dan profesional, memancarkan energi usia matang tiga puluhan yang penuh ambisi. Rentang usia kami terpaut cukup jauh, sebuah kenyataan yang awalnya sempat membuatku sedikit waswas untuk terlibat dalam percakapan intens. Namun, setiap kali kami mulai bicara, keraguan itu menguap begitu saja, digantikan oleh ritme percakapan yang sangat dewasa.
Arini tiba tepat waktu. Dia mengenakan blus sutra berwarna navy dengan rambut yang disanggul rapi. Begitu duduk, dia tidak membuang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu.
"Pak Yos, saya membaca draft sistem yang kamu berikan minggu lalu," ujarnya langsung pada poinnya, matanya menatap tajam namun tidak intimidatif. "Ada sesuatu yang mengganjal di bagian skalabilitas modul integrasi. Bukankah kalau kita menggunakan logika queuing yang berbeda, kita bisa menekan beban server sampai 30% lebih efektif?"
Aku tersenyum. Itu dia. Cara dia berpikir selalu membuatku terkesan. "Panggil saja Yos”, ucapku “Itu poin yang sangat menarik. Saya sempat memikirkan hal itu, tapi saya takut jika kita memakai queuing itu, kita mengorbankan stabilitas data real-time. Tapi kalau kamu punya sudut pandang lain, mari kita bedah."
Dua jam berlalu seperti lima belas menit. Kami bukan sedang melakukan kencan buta atau pendekatan romantis yang canggung. Kami sedang melakukan semacam "dansa intelektual". Arini bukan tipe wanita yang hanya mengangguk setuju. Dia menantang argumen ku, dia mempertanyakan setiap logika yang kupaparkan, dan dia selalu melakukannya dengan dasar yang kuat.
Aku sering bertanya-tanya, mengapa wanita seperti Arini—yang memiliki segalanya, kecantikan, karier, dan masa muda—begitu antusias untuk menghabiskan waktu dengan seorang pria seperti diriku?
"Yos," dia tiba-tiba mengubah topik, dari teknis bisnis ke arah yang lebih personal. "Kenapa kamu sangat fokus pada aspek psikologis dalam bisnis? Kebanyakan konsultan hanya bicara soal efisiensi angka. Kamu selalu bicara soal bagaimana orang di dalam sistem itu harus merasa 'terberdayakan'. Kenapa?"
Aku menatapnya dalam-dalam. Pertanyaan itu tidak muncul dari ketidaktahuan, melainkan dari keinginan untuk memahami mengapa aku berbeda. "Karena sistem yang sempurna di tangan orang yang merasa tertekan, tetap akan gagal, Arini. Saya pernah menjadi orang yang tertekan itu. Saya pernah bekerja di perusahaan besar di mana manusia dianggap sekadar komponen mesin. Dan saya hancur. Saya belajar bahwa bisnis bukan hanya tentang sistem, tapi tentang membangun ekosistem di mana manusia bisa tumbuh. Jika mereka tumbuh, bisnis dengan sendirinya akan berkembang."
Arini terdiam, matanya berkaca-kaca sejenak, sebelum dia mengangguk pelan. "Itu penjelasan yang sangat manusiawi. Kamu memiliki empati yang tidak diajarkan di buku manajemen mana pun."
Aku merasa sangat nyaman dengannya. Tidak ada kepura-puraan. Dia tidak melihatku sebagai "mantan manajer yang gagal" atau "duda yang sedang mencoba bangkit". Dia melihatku sebagai mitra diskusi. Sisi dewasanya, meskipun usianya jauh di bawahku, adalah pelabuhan yang menenangkan bagi pikiranku yang selama ini selalu bekerja keras sendirian.