Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #31

Chapter #31 Ruang Tanpa Penghakiman

​Jakarta malam itu terasa lebih gerah dari biasanya, namun suasana di dalam kafe tempat kami bertemu justru terasa kontras—dingin dan tenang. Aku memperhatikan Arini yang sedang menyesap tehnya. Dia mengenakan gaun yang—jujur saja—bagi mata orang awam mungkin dianggap terlalu mencolok atau "berani". Di lingkungan bisnis yang kaku dan penuh aturan tak tertulis, banyak orang akan tergoda atau membisikkan segala hal di belakangnya. Mereka akan mengatakan bahwa dia terlalu fokus pada penampilan, atau bahwa dia sengaja menggunakan kecantikannya untuk memuluskan jalan bisnisnya.

​Tetapi aku tidak melihat itu. Saat melihat Arini, aku tidak melihat gaun, riasan, atau postur tubuhnya yang proporsional seperti benar-benar seorang model profesional. Aku melihat otaknya yang bekerja lebih cepat dari rata-rata orang, aku melihat ambisi yang membara, dan aku melihat kelelahan di balik mata yang selalu terlihat tajam itu.

"Yos," suaranya memecah kesunyian, ceplas-ceplos seperti biasa. "Tadi siang, ada salah satu direktur dari perusahaan klien yang bertanya, apakah saya tidak takut kalau gaun saya membuat klien tidak fokus? Maksudnya, dia secara implisit menuduh saya tidak profesional karena cara berpakaian saya."

​Aku meletakkan cangkir kopiku, menatapnya dengan tenang. "Lalu apa jawabanmu?"

​Arini mendengus, sebuah tawa pendek yang sinis. "Saya tanya balik, 'Apakah Bapak tidak fokus karena gaun saya, atau karena Bapak memang tidak mengerti materi presentasi yang saya sampaikan?' Dia diam seribu bahasa. Bodoh sekali, bukan?"

​Aku tersenyum tipis. Arini memang tidak punya waktu untuk basa-basi yang memuakkan. Dia adalah tipe wanita yang jika tidak suka, dia akan mengatakannya langsung. Baginya, etika bisnis adalah soal kinerja, integritas, dan kejujuran, bukan soal panjang pendeknya pakaian atau seberapa santun dia bersikap di depan pria-pria yang haus kekuasaan.

"Kamu terlalu keras pada mereka," kataku santai.

"Bukan saya yang keras, Yos. Mereka yang terlalu picik," balasnya cepat, mencondongkan tubuh ke depan. "Itu alasan kenapa saya nyaman denganmu. Kamu satu-satunya pria yang tidak pernah mengomentari apa yang saya pakai. Kamu tidak pernah menyuruh saya untuk 'tampil lebih sopan' atau 'menjaga citra diriku'. Kamu hanya peduli pada apa yang keluar dari mulut saya. Kenapa orang lain tidak bisa seperti itu?"

​Aku terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi berat maknanya. Bagi Arini, mungkin ini adalah kebebasan yang langka. Selama ini, hidupnya mungkin diatur oleh ekspektasi orang lain. Dia adalah properti bagi mata orang-orang yang melihatnya, bukan subjek yang punya otoritas atas dirinya sendiri.

"Mungkin karena saya tidak merasa punya hak untuk mengatur hidupmu, Arini," jawabku pelan. "Penampilanmu adalah caramu berkomunikasi dengan dunia. Jika dunia salah menerimanya, itu masalah dunia, bukan masalahmu. Saya hanya tertarik pada apa yang kamu pikirkan, dan tidak terganggu yang kamu kenakan."

​Arini menatapku cukup lama. Tatapannya tidak lagi tajam atau penuh tantangan, melainkan sesuatu yang lembut, hampir rapuh. Ada kerinduan yang tersirat di sana—kerinduan untuk diterima apa adanya tanpa syarat. "Aku ingin kamu selalu ada di sini, Yos. Bersamaku. Dengan segala kekurangan yang mungkin orang lain anggap aneh, aku ingin kamu tetap menjadi orang yang membiarkanku menjadi diriku sendiri."

​Kalimat itu seperti hantaman di dadaku. Itu adalah pernyataan yang jujur dan berani dari seorang wanita muda yang memiliki segalanya, namun mungkin merasa kesepian di tengah keramaian.

​Setelah pertemuan itu, aku berjalan menuju parkiran motor dengan perasaan yang bercampur aduk. Angin malam Jakarta terasa dingin menyapu wajahku. Pikiranku berkelana jauh, mencoba meredam detak jantung yang tiba-tiba tidak beraturan.

​Arini.

​Dia adalah magnet yang kuat. Dia cerdas, dia menantang, dia mandiri, dan di atas segalanya, dia adalah wanita yang sangat menarik. Siapa pria yang tidak akan jatuh hati padanya? Tapi, aku harus menampar diriku sendiri.

Lihat selengkapnya