Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #32

Chapter #32 Retakan di Balik Tembok Pertahanan

Malam itu, kantor ruko kami terasa sangat mencekam. Lampu-lampu jalan di luar mulai redup, namun di dalam ruangan, layar monitor masih memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Sebuah krisis teknis melanda sistem klien besar yang baru saja kami integrasikan. Ini bukan masalah sepele; ini adalah kegagalan sistemik yang bisa menghancurkan reputasi bisnis yang selama ini kubangun dengan susah payah.

​Staf-stafku sudah pulang sejak dua jam yang lalu, tapi aku dan Arini masih terjebak di sini. Arini, yang seharusnya sudah bisa berada di apartemennya yang nyaman, memilih untuk tinggal. Dia tidak hanya duduk diam; dia ikut membantu memilah log data, mencari celah di mana sistem tersebut mengalami bottleneck.

"Yos, lihat baris ini," suaranya memecah keheningan, terdengar lelah namun tetap fokus. "Ini bukan kesalahan pengkodean mu. Ini masalah integrasi dengan database pihak ketiga. Mereka mengubah protokol API-nya tanpa notifikasi."

​Aku mendekat, membungkuk di sampingnya untuk melihat layar. Wangi parfumnya yang lembut—aroma sandalwood yang tenang—tercium samar, mengusik konsentrasiku. "Kamu benar. Sial, mereka melakukannya tepat saat beban trafik sedang tinggi."

​Kami bekerja dalam sinkronisasi yang aneh. Tidak perlu banyak kata. Dia memahami logika ku, dan aku memahami kecepatan berpikirnya. Dalam situasi krisis seperti ini, keadaan profesionalitas kami menipis. Tidak ada lagi basa-basi. Yang ada hanyalah dua orang yang sedang berjuang melawan waktu.

"Kamu tidak perlu melakukan ini, Arini," kataku di sela-sela mengetik kode perbaikan. "Ini tanggung jawabku."

​Dia tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar. "Ini bisnis kita, Yos. Kamu lupa? Kita adalah mitra. Apa yang terjadi pada reputasimu adalah apa yang terjadi pada reputasiku juga. Dan jujur saja, saya tidak akan membiarkan orang lain meremehkan hasil kerja kerasmu hanya karena satu kesalahan teknis dari vendor luar."

​Kalimat itu menohokku. Bukan karena teknis bisnisnya, tapi karena ketulusannya. Di saat-saat kritis, Arini tidak lari. Dia berdiri tepat di sampingku, di garis depan pertempuran.

​Dua jam kemudian, sistem kembali stabil. Kami berdua terduduk lelah di kursi masing-masing, menatap layar yang kini menunjukkan grafik normal. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

"Selesai," bisikku, menghela napas panjang.

​Arini memutar kursinya menghadapku. Rambutnya yang sedikit berantakan karena seharian bekerja tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Yos," panggilnya lirih. "Kenapa kamu terus mencoba mendorongku pergi?"

​Aku terdiam. Aku tahu pertanyaan ini akan datang. "Arini, ini sudah jam dua pagi. Kita lelah."

"Jangan mengelak," katanya tegas, suaranya naik sedikit. "Aku bukan klien yang bisa kamu alihkan dengan bicara teknis. Aku Arini. Dan aku tahu persis apa yang kamu lakukan. Kamu takut."

Lihat selengkapnya