Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #33

Chapter #33 Tembok yang Runtuh Perlahan

​Kantor ruko kecil kami sudah menjadi saksi bisu perkembangan usahaku. Aldi dan tim grafis sudah terbiasa dengan pemandangan rutin dimana aku yang berusaha fokus pada monitor, dan Arini yang datang dengan langkah percaya diri—bahkan terkadang sedikit sengaja mencolok—seolah-olah dia adalah pemilik tempat ini.

​Dulu, aku selalu berusaha menjaga jarak profesional. Aku adalah Yos, pria dengan masa lalu yang berantakan, pria yang harus menjaga harga dirinya agar tidak terlihat "murahan" di depan wanita yang jauh lebih sukses dan muda. Aku menarik diri setiap kali dia mendekat. Aku membangun tembok, memasang tanda "Dilarang Masuk" di hatiku yang paling dalam.

​Namun, Arini? Dia bukan orang yang bisa dihentikan oleh tanda peringatan. Dia justru menjadikan tanda itu sebagai tantangan.

​Siang itu, suasana kantor sedang sibuk-sibuknya. Aku sedang berdiskusi dengan Aldi mengenai timeline proyek baru. Tiba-tiba, pintu ruko terbuka. Arini masuk dengan membawa beberapa kotak makan siang premium. Tanpa ragu, dia berjalan langsung menuju mejaku, menaruh kotak-kotak itu di samping laptop ku, lalu dengan santai mengusap bahuku—sebuah gestur yang dilakukan dengan begitu natural, seolah-olah itu adalah hak miliknya.

"Tadi aku mampir ke restoran Jepang langganan kita, kupikir kamu pasti belum makan," ucapnya, suaranya terdengar manis di seluruh ruangan.

​Aldi dan staf lainnya langsung terdiam. Aku bisa mendengar suara kekehan tertahan dari sudut ruangan. Aldi, yang biasanya sangat profesional, tampak berusaha menyembunyikan senyumnya di balik layar monitor.

"Arini, kamu tidak perlu repot-repot," bisikku, merasa wajahku memanas. "Aku bisa pesan makan sendiri."

​Arini hanya tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan tidak terganggu sama sekali oleh tatapan orang lain. "Siapa bilang repot? Lagipula, kalau kamu sakit karena telat makan, yang rugi aku juga, kan? Kan kita mitra."

​Dia kemudian berbalik menatap stafku dengan senyum ramah yang mematikan. "Hai, teman-teman. Makan siang bareng yuk? Ada ekstra untuk kalian juga."

​Dalam sekejap, fokus kantor beralih menjadi sesi makan siang yang cair. Aku terpaku di kursiku, merasa seperti remaja yang sedang mengalami salah tingkah yang parah. Arini duduk di kursi di sebelahku, benar-benar mengabaikan jarak profesional yang selama ini mati-matian coba kutegakkan.

"Kamu terlalu tegang, Yos," bisiknya saat stafku mulai sibuk mengobrol. "Kenapa harus sekaku itu? Bukankah menyenangkan bisa berbagi makan siang dengan orang-orang yang bekerja keras bersamamu?"

"Bukan soal makannya, Arini," bisikku balik, frustrasi. "Orang-orang nanti akan berpikir macam-macam. Kamu ini pebisnis sukses, jangan sampai reputasimu terganggu karena terlihat terlalu dekat denganku."

​Dia menoleh, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Tidak ada kebohongan di sana, hanya kejujuran yang menelanjangi ketakutanku. "Reputasiku adalah tanggung jawabku. Dan memilihmu—atau lebih tepatnya, mengejarmu—adalah keputusan sadar yang kubuat. Kenapa kamu begitu takut dengan apa yang dipikirkan orang lain, sampai-sampai kamu lupa untuk menikmati hidup?"

​Aku tidak bisa menjawab. Aku merasa bodoh. Aku merasa sangat tidak kompeten. Bagaimana mungkin aku, yang bisa menyelesaikan masalah integrasi sistem paling rumit dalam semalam, tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalas seorang wanita yang hanya ingin dekat denganku?

​Beberapa hari kemudian, kejadian serupa terulang. Arini datang saat ada klien sedang berkunjung. Bukannya menjaga jarak atau bersikap formal, dia justru masuk ke ruang rapat, memberikan salam hangat kepada klien seolah-olah dia adalah bagian dari manajemen perusahaan ini.

"Maaf mengganggu," katanya sambil tersenyum pada klien. "Saya Arini, mitra strategis Yos. Kami sedang merencanakan ekspansi untuk sistem ini."

Lihat selengkapnya