Malam itu, Jakarta tampak berpesta. Sebuah gala bisnis tahunan digelar di ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal menggantung megah, musik jazz mengalun lembut, dan aroma parfum mahal bercampur dengan wewangian bunga segar yang memenuhi ruangan. Aku berdiri di sana, mengenakan setelan jas yang sudah ku persiapkan dengan baik, namun tetap merasa sedikit "asing" di tengah gemerlap dunia yang dihuni oleh para pesohor, pengusaha kaya, dan wajah-wajah yang sering menghiasi sampul majalah.
Di sampingku, Arini adalah pusat gravitasi. Dia mengenakan gaun yang elegan, memancarkan aura yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa harus memberikan penghormatan. Namun, yang membuatku merasa sangat tidak nyaman bukanlah Arini, melainkan tatapan orang-orang di sekeliling kami.
Aku bisa mendengar bisikan-bisikan itu. Mereka tidak cukup keras untuk menjadi teguran, tapi cukup tajam untuk tertangkap oleh telingaku.
"Itu Arini, kan? Siapa pria yang bersamanya?"
"Itu Yos. Konsultan sistem dan bisnis, katanya. Tapi lihat... dia jauh lebih tua, bukan? Usianya pasti sudah diatas empat puluh tahunan."
"Benar. Arini yang secantik dan sesukses itu, kenapa selera-nya jatuh pada om-om tua yang bahkan tidak terlihat seperti model? Lihat pria-pria lain yang mengantri untuknya, CEO muda, artis papan atas... mereka semua jauh lebih 'layak' untuk bersanding dengannya."
Aku menunduk sejenak, membetulkan letak jam tanganku. Rasa rendah diri itu masih ada, sisa-sisa trauma dari masa lalu yang mengajarkanku bahwa "layak" adalah sebuah standar sosial yang harus dipenuhi. Aku merasa seperti objek asing yang tersesat di pesta yang salah.
Namun, sebelum aku sempat menarik diri atau membuat jarak, sebuah tangan yang hangat merayap di lenganku. Arini menggenggamnya dengan erat, bukan dengan cengkeraman ragu, melainkan dengan posesif yang elegan.
"Jangan dengarkan mereka," bisiknya di dekat telingaku. Suaranya rendah, tenang, namun memiliki otoritas yang tidak terbantahkan.
"Mereka tidak salah, Arini," jawabku pelan. "Melihatmu bersama pria yang lebih tua seperti aku, wajar jika mereka bingung. Mereka tidak melihat apa yang kamu lihat."
Arini tertawa kecil, suara yang terdengar seperti melodi di tengah bisingnya ruangan. Dia memutar tubuhnya, menatapku tepat di mata. "Mereka melihat 'apa', Yos. Mereka melihat usia, mereka melihat kekayaan?. Mereka tidak melihat integritas yang membuatku bangun setiap pagi dengan rasa kagum. Mereka tidak melihat pria yang berani bangkit dari puing-puing kehancuran tanpa kehilangan jiwanya."
Di tengah kerumunan itu, Arini melakukan sesuatu yang membuat seisi ruangan seolah terdiam—setidaknya dalam persepsiku. Dia tidak mencoba menyembunyikan kedekatan kami. Dia justru menarikku lebih dekat, memperkenalkan diriku kepada sekelompok orang yang terdiri dari para pengusaha berpengaruh.
"Perkenalkan, ini Yos," suaranya lantang, penuh kebanggaan. "Mitra saya dalam bisnis, dan pria yang paling saya hormati di ruangan ini."
Seorang pria muda, yang kutahu adalah seorang sosialita yang sering terlihat di media, mencoba mendekat. Dia tersenyum sok akrab, matanya menelanjangiku dengan tatapan meremehkan. "Arini, sayang. terlihat sangat cantik malam ini. Mengapa membuang waktumu dengan pria tua yang kaku ini? Mengapa tidak bergabung dengan kami di meja VIP? Kita punya banyak hal menarik untuk dibicarakan."