Acara malam ini adalah sebuah gala dinner eksklusif di salah satu hotel paling mewah di pusat kota. Ruangan itu dipenuhi oleh mereka yang memiliki nama besar, harta yang tak habis tujuh turunan, dan tentu saja, reputasi yang harus selalu terjaga. Kehadiranku di sana, menggandeng Arini, jelas menjadi bahan pembicaraan yang panas.
Bagi banyak pria di ruangan itu, aku merasa adalah musuh bersama. Mereka menatapku dengan campuran antara rasa iri dan jengkel yang tidak bisa mereka sembunyikan. Bagaimana mungkin Arini, primadona di dunia bisnis dan model yang digilai banyak orang, memilih pria sepertiku? Seorang pria yang tidak lahir dengan sendok perak, yang tidak memiliki latar belakang keluarga ningrat, dan yang—menurut standar mereka—sudah "terlalu tua". Mereka sering kali melayangkan pandangan merendahkan, seolah-olah aku adalah pencuri yang berhasil membawa kabur permata paling berharga di ruangan itu.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah reaksi para wanita.
Ternyata, Arini bukan satu-satunya yang menyadari kualitas "berbeda" dalam diriku. Di dunia di mana segalanya bisa dibeli, di mana para pria di sekitar mereka sering kali hanya menawarkan rayuan murahan, mobil mewah, atau janji-janji kosong, sosok ku yang cenderung tenang, pendengar yang baik, dan tidak silau dengan harta, justru menjadi magnet yang menarik. Wanita-wanita dari kalangan atas ini mulai melihatku sebagai sesuatu yang "langka". Mereka tidak melihat harta, mereka melihat stabilitas emosional dan karakter yang jarang mereka temukan di lingkaran mereka sendiri.
Arini, dengan instingnya yang tajam, menangkap itu dengan sangat cepat.
Sebelum kami masuk ke dalam ruangan, Arini berhenti tepat di depan pintu besar ballroom. Dia merapikan kerah jas ku, tatapannya menyapu penampilanku dengan posesif. Tanpa peringatan, dia menangkup wajahku dan memberikan ciuman lembut namun tegas tepat di bibirku. Itu bukan ciuman biasa; itu adalah deklarasi. Dia menatapku tajam, seolah berkata, 'Jangan biarkan siapapun menarik perhatianmu.'
"Aku harus mengambil minum sebentar di bar," katanya dengan suara yang dibuat cukup keras agar bisa didengar oleh beberapa orang di sekitar kami. "Jangan ke mana-mana, sayang. Tunggu aku di sini, ya?"
Aku hanya mengangguk, masih sedikit kikuk dengan keberaniannya yang tiba-tiba. Setelah dia melenggang pergi, dia tidak langsung hilang dari pandangan. Dia menoleh sekali lagi ke arahku, melemparkan senyuman yang penuh arti, sebelum menghilang di balik kerumunan.
Begitu Arini pergi, "wanita-wanita" itu mulai mendekat.
Seorang wanita elegan dengan gaun hitam yang sangat modis mulai berjalan ke arahku. Dia tampak sangat percaya diri. "Malam, Yos. Boleh saya bergabung? Saya dengar dari Arini kalau kamu adalah orang di balik sistem yang sedang banyak dibicarakan di kalangan logistik."
Aku mencoba bersikap sopan. "Malam. Tentu saja, silakan."
Tidak lama kemudian, wanita lain menyusul. Mereka seakan mulai melingkariku. Pertanyaan-pertanyaan mereka bukan lagi soal bisnis, melainkan lebih ke arah pribadi. Mereka memuji caraku bicara, cara caraku bersikap, bahkan memuji bagaimana aku bisa tetap tenang di tengah keriuhan pesta. Mereka tertawa dengan nada yang sengaja dibuat lebih tinggi, mencoba menarik perhatianku dengan berbagai cara.
Aku merasa sangat terjepit. Bukan karena aku tidak bisa menghadapinya, tapi karena aku merasa risih. Aku bukan pria yang suka digoda, apalagi oleh wanita-wanita yang perilakunya sangat transparan di mataku.