Ruko tiga lantai yang kusewa sebagai kantor ini sebenarnya jauh dari kata mewah. Lantainya masih keramik lama, cat dindingnya sedikit mengelupas di beberapa sudut, dan bau kopi instan yang diseduh Aldi, stafku, lebih dominan daripada aroma parfum mahal. Namun, pemandangan di ruang tunggu ruko ini belakangan menjadi sangat diluar akal. Seringkali, di sela-sela tumpukan kardus server dan kabel-kabel yang menjuntai, duduk wanita-wanita dengan tas bermerek seharga rumah tipe tiga enam, sepatu stiletto desainer, dan riasan yang tampak seperti baru keluar dari sesi pemotretan majalah Vogue.
Mereka datang dengan alasan yang dibuat-buat. "Saya ingin konsultasi tentang efisiensi sistem e-commerce untuk toko butik saya," kata seorang wanita dengan nada yang sangat dimanis-maniskan. Padahal, saat aku menjelaskan tentang database dan flow integrasi, matanya tidak sekalipun menatap layar komputer. Dia menatapku.
Aldi, yang duduk di mejanya, biasanya akan menutup wajahnya dengan berkas, pura-pura sibuk padahal bahunya terguncang menahan tawa. Dia sudah hafal. Setiap ada wanita berpakaian mahal masuk, dia tahu hanya ada dua kemungkinan yaitu kalau bukan klien sungguhan, berarti "peminat" baru yang sedang tersesat.
Dan disanalah letak hebohnya. Arini, dengan segala kecerdasannya, ternyata memiliki radar yang sangat sensitif terhadap hal ini. Dia tidak pernah marah atau cemburu buta yang merusak suasana. Sebaliknya, dia justru memainkannya seperti sebuah permainan catur yang sangat menghibur.
Siang itu, seorang wanita sosialita bernama Vanya—yang kukenal dari acara gala minggu lalu—sedang duduk di ruang rapat ruko kami, mencoba memamerkan koleksi jam tangan mahalnya sambil bertanya hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan bisnis.
"Yos, menurutmu, apakah pria yang sibuk seperti kamu masih punya waktu untuk... menikmati hidup?" tanyanya sambil menyilangkan kaki dengan gaya yang sangat diatur.
Sebelum aku sempat menjawab, suara tawa renyah yang sangat kukenal bergema dari balik pintu ruko.
"Menikmati hidup itu relatif, Vanya," suara Arini memotong.
Vanya tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Arini masuk dengan langkah yang penuh percaya diri, seolah ruko sederhana ini adalah catwalk pribadinya. Dia mengenakan pakaian kerja yang chic, tampak kontras dengan dekorasi kantor kami yang seadanya, tapi entah bagaimana, dia justru membuat ruko ini terlihat mahal hanya karena keberadaannya.
"Arini," sapa Vanya, berusaha tetap tenang meski terlihat jelas dia salah tingkah.
"Aku dengar kamu punya masalah sistem yang sangat mendesak?" Ucap Arini dan dia langsung duduk tepat di sampingku, tangannya langsung melingkar di lenganku, benar-benar menutup akses bagi siapa pun untuk mendekat. "Kebetulan, hari ini Yos sedang sangat sibuk dengan proyek besar. Jadi, kalau masalah di sistem mu tidak terlalu teknis, mungkin aku bisa bantu. Aku ini mitra strategisnya, dan aku tahu segalanya tentang sistem Yos."
Vanya terdiam. Dia tahu dia kalah telak. Tidak ada ruang untuk berdebat dengan Arini. Arini tidak perlu meninggikan suara, dia hanya perlu menunjukkan siapa yang memiliki hak penuh atas pria di sampingnya. Dengan alasan "ada janji mendadak", Vanya akhirnya pamit dengan wajah yang sedikit memerah.