Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #37

Chapter #37 Di Balik Hujan dan Keheningan

​Drama sosial yang mengelilingi kami beberapa hari terakhir ini benar-benar menguras energi. Kantor ruko yang sederhana seolah menjadi episentrum bagi para wanita kalangan atas yang tiba-tiba merasa memiliki "kebutuhan bisnis mendesak" denganku. Namun, bagiku, itu adalah pengingat konstan bahwa Arini dan aku hidup di dua dunia yang berbeda. Dunia di mana aku berusaha membangun sesuatu dari nol, dan dunia Arini yang penuh dengan ekspektasi, gosip, dan persaingan ketat.

​Namun, malam itu, Arini membuat keputusan yang berbeda. Dia tidak membawaku ke pesta. Dia tidak membawaku ke restoran mewah tempat para sosialita itu sering berkumpul. Dia justru menjemputku dengan mobilnya, melepas semua perhiasan yang ia kenakan, mengikat rambutnya dengan asal, dan berkata, "Bawa aku ke tempat di mana tidak ada yang mengenal kita, Yos. Aku lelah menjadi 'penjaga' selama dua puluh empat jam."

​Aku tertegun melihatnya. Arini yang biasanya selalu tampil sempurna, Arini yang selalu punya jawaban tajam untuk setiap gunjingan, kini tampak begitu manusiawi. Dia lelah. Dia hanyalah seorang wanita yang juga butuh tempat untuk bersandar.

​Kami berkendara tanpa tujuan pasti, membelah jalanan Jakarta yang basah. Hujan menampar kaca mobil dengan ritme yang menenangkan. Di dalam, musik jazz pelan mengalun, mengisi ruang kosong di antara kami. Tidak ada percakapan bisnis. Tidak ada strategi ekspansi. Hanya ada keheningan yang nyaman.

"Kamu tahu," suara Arini memecah sunyi setelah kami berhenti di sebuah pinggiran kota yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis. Dia menatap keluar jendela, memandangi lampu-lampu kota yang tampak seperti kunang-kunang di kejauhan. "Kadang, aku iri pada mereka."

"Siapa?" tanyaku penasaran.

"Mereka yang bisa mencintai tanpa perlu memikirkan posisi, tanpa perlu memikirkan citra diri, dan tanpa perlu merasa harus menjadi benteng pertahanan bagi pasangannya." Dia menoleh pada aku, matanya berkaca-kaca di bawah temaram lampu kabin. "Menjadi 'sekuriti untukmu itu melelahkan, Yos. Tapi aku melakukannya karena aku takut kehilangan hal paling berharga yang pernah kumiliki."

​Kata-katanya seperti memukul ulu hatiku. Selama ini, aku selalu merasa akulah yang beruntung karena Arini memilihku. Tapi aku lupa, bahwa bagi Arini, memilihku juga merupakan risiko baginya. Dia menantang ekspektasi dunianya untuk pria yang bahkan tidak bisa menjanjikannya kehidupan yang mewah atau status sosial yang sama tingginya.

"Arini," kata ku, meraih tangannya yang dingin. "Kamu tidak perlu menjadi benteng itu lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

​Dia tersenyum tipis, senyum yang getir namun penuh cinta. "Kamu tidak mengerti, Yos. Ini bukan soal kamu saja. Ini soal aku juga. Aku sudah terbiasa hidup dengan topeng, terbiasa harus selalu menang, terbiasa harus selalu di atas. Bersamamu, aku tidak perlu menang. Bersamamu, aku bisa kalah, aku bisa lelah, dan aku bisa menjadi diriku yang paling jujur."

​Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aroma parfumnya yang lembut, bercampur dengan wangi hujan yang terbawa masuk saat dia membuka kaca jendela sedikit, membuatku merasa seolah-olah waktu berhenti berputar.

"Jangan pernah berpikir bahwa kamu hanyalah pelarian bagiku," lanjutnya lagi, suaranya kini nyaris berbisik. "Kamu adalah rumah. Tempat aku pulang setelah lelah berperang melawan dunia yang dangkal ini."

​Malam itu, aku menyadari sesuatu yang sangat mendalam. Hubungan kami telah melampaui fase ketertarikan yang bukan sekadar simbiosis mutualisme dalam bisnis. Kami telah memasuki fase di mana dua jiwa saling membutuhkan ruang untuk bernapas. Dia tidak mencintaiku karena aku adalah pria yang "bisa diandalkan" di kantor. Dia mencintaiku karena di dekatku, dia merasa mendapatkan apa yang paling dia ingin inginkan dalam hidupnya.

Lihat selengkapnya