Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #38

Chapter #38 Menghadapi Bayangan Masa Lalu

​Aku duduk di kursi kerjaku, menatap kosong pada dokumen-dokumen yang berserakan. Arini masuk ke ruangan, membawa dua cangkir kopi seperti biasanya. Dia berhenti sejenak, menatapku, lalu tatapannya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia tidak perlu bertanya apa isinya; dia sudah bisa merasakan perubahanku.

"Aku akan menemanimu," ucapnya tenang, meletakkan cangkir kopi di depanku.

​Aku mendongak, terkejut. "Tidak perlu, Arini. Ini urusan pribadiku. Urusan masa laluku."

​Arini menarik kursi, duduk tepat di depanku. Dia menatapku dengan tatapan yang teduh, namun memiliki kedalaman yang tidak terbantahkan. "Yos, kamu mungkin berpikir bahwa masa lalu itu adalah beban yang harus kamu pikul sendirian. Tapi sekarang, hidupmu bukan lagi hanya tentang masa lalu. Kamu punya masa kini, dan kamu punya aku. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan menemui luka lamamu tanpa seseorang yang bisa menjaga punggungmu."

"Tapi, dia mantan istriku..."

"Dan aku adalah wanita yang memilihmu," potongnya lembut namun tegas. "Aku tahu apa yang aku hadapi. Aku tahu siapa dirimu, dan aku tahu alasan kenapa aku bisa jatuh hati padamu. Kamu adalah pria yang berintegritas, yang bahkan di tengah kepahitan, masih memikirkan kesejahteraan orang lain, termasuk dia. Itu justru salah satu hal yang membuatku menghargaimu. Jadi, biarkan aku menemanimu."

​Ada kelegaan yang luar biasa mendengar kata-katanya. Dia tidak cemburu dengan cara yang kekanak-kanakan. Dia cemburu, tentu saja—aku bisa melihat kilatan kecil di matanya yang sesaat—tapi dia mengendalikannya dengan cara yang elegan, dengan cara seorang wanita yang sudah sangat matang secara emosional.

​Kami memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe yang cukup tenang di pinggiran Jakarta. Maya sudah menunggu di sana. Namun, ada sesuatu yang berbeda—tatapan matanya yang dulu penuh ambisi, kini tampak lelah.

​Saat kami mendekat, Maya menatapku, lalu matanya beralih ke Arini. Dia terdiam, mungkin terkejut melihat Arini mendampingiku. Arini tetap tenang, memancarkan aura percaya diri yang membuat Maya tampak seperti sedang diintimidasi, padahal Arini hanya diam dan duduk dengan anggun di sampingku.

"Yos," sapa Maya pelan. "Terima kasih sudah mau datang."

"Apa yang ingin kamu bicarakan, Maya?" tanyaku to-the-point.

​Maya ragu sejenak. Dia memutar cangkir minumannya, mencoba mengumpulkan kata-kata. Di dalam hatiku, aku mengamati gerak-geriknya. Dia datang bukan untuk sekedar berbicara tentang anak kami. Ada keputusasaan yang terselubung di sana.

"Bisnisku... suamiku, dia mengalami masalah besar," ucapnya akhirnya, suaranya sedikit bergetar. "Kami sedang terlilit utang yang cukup besar, dan... mereka mengancam akan menyita aset yang seharusnya menjadi tabungan pendidikan untuk anak kita. Aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi."

​Aku tertegun. Jadi inilah alasannya. Dia datang karena dia butuh "penyelamat".

Lihat selengkapnya