Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #39

Chapter #39 Rumah, Harga Diri, dan Janji Masa Depan

​Malam itu, hujan mengguyur Jakarta dengan ritme yang lebih lembut, seolah ikut merayakan kedamaian yang kami rasakan. Kami sedang berada di favoritku—ruang tamu kecil di ruko kantor lantai tiga yang sederhana. Arini tidak keberatan duduk di sofa yang sudah sedikit usang itu, meminum teh hangat yang kubuatkan sendiri. Di sini, di tengah tumpukan berkas dan aroma buku-buku teknis, dia tidak lagi menjadi wanita karir yang disegani oleh para elit atau "sekuriti" yang galak. Dia adalah Arini-ku. Seseorang yang begitu tulus, yang begitu mencintaiku sampai ia rela menanggalkan segala keanggunan dunianya hanya untuk duduk bersamaku dalam kesederhanaan.

"Yos," panggilnya pelan, memecah keheningan. Dia tidak menatapku, melainkan menatap cangkir teh di tangannya.

"Ya?"

"Kita sudah bicara banyak soal masa depan. Soal bisnis, soal tantangan, soal bagaimana kita menghadapi dunia. Tapi, ada satu hal yang belum pernah kita bahas secara spesifik," dia menghela napas, lalu menatapku dengan mata yang jernih. "Tentang tempat tinggal. Tentang... rumah."

​Aku terdiam. Topik ini terasa sangat berat, lebih berat dari krisis sistem apa pun yang pernah kutangani.

"Aku tahu kamu punya harga diri yang tinggi, Yos," lanjutnya, suaranya kini sedikit lebih hati-hati. "Dan aku menghormati itu lebih dari apapun. Tapi, kalau nanti—dan aku berharap itu segera—kita memutuskan untuk menikah, apakah kamu pernah terpikir... bagaimana kalau kita tinggal di rumahku saja? Atau apakah kamu punya rencana, pertimbangan, atau keberatan lain?"

​Pertanyaan itu menggantung di udara, menuntut jawaban yang jujur. Aku merasakan sensasi aneh di dadaku. Sebagai pria yang berusaha keras membangun hidup dari titik nol setelah hancur, gagasan untuk tinggal di rumah istri—terutama istri yang jauh lebih sukses secara finansial—terasa seperti pukulan bagi egoku.

​Aku terdiam cukup lama. Bukan karena aku tidak ingin tinggal bersamanya, melainkan karena aku sedang bergulat dengan diriku sendiri.

"Arini," kataku akhirnya, mencoba menyusun kata-kata dengan hati-hati. "Kamu tahu aku mencintaimu. Kamu tahu aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tapi..."

"Tapi kamu merasa itu akan membuatmu terlihat seperti menumpang?" potongnya, seolah dia sudah bisa membaca pikiranku dengan sangat tepat.

​Aku mengangguk perlahan. "Mungkin bukan sekadar 'menumpang', tapi... aku ingin merasa bahwa aku adalah pria yang membangun rumahnya sendiri. Aku ingin ketika aku pulang, aku merasa itu adalah tempat di mana aku berperan sebagai pemimpin, bukan sekadar tamu di rumah mewahmu."

Lihat selengkapnya