Arini memang bukan seorang konglomerat yang namanya terpampang di daftar orang terkaya majalah bisnis dunia, namun profesionalisme nya, kecerdasannya, dan aura elegan yang selalu dia bawa, telah menempatkannya di lingkaran elit Jakarta. Setiap langkahnya adalah pesona, setiap keputusannya adalah langkah bisnis yang tajam. Banyak pria dari kalangan atas, para pewaris bisnis dan pengusaha sukses, yang terang-terangan mencoba menarik perhatiannya. Namun, bagi Arini, dunia mereka terasa dangkal. Baginya, satu senyuman tulusku jauh lebih berharga daripada janji-janji kemewahan yang mereka tawarkan.
Sore itu, kami memutuskan untuk mampir ke sebuah butik kelas atas di pusat kota. Arini memintaku menemaninya memilih beberapa pakaian untuk acara amal bisnis yang akan kami hadiri lusa. Di dalam butik yang sunyi dan wangi itu, Arini bertransformasi menjadi sosok yang berbeda. Dia mencoba sebuah gaun sutra berwarna navy yang pas di badannya yang indah. Saat dia keluar dari ruang ganti, aku merasa nafasku tercekat. Keanggunan yang dia pancarkan, auranya yang begitu mewah namun tetap rendah hati, adalah definisi dari "berkelas". Dia bukan sekadar wanita cantik; dia adalah magnet yang membuat setiap pasang mata di butik itu—termasuk para pelayan toko yang sudah terbiasa dengan klien elit—menatapnya dengan terpukau.
"Bagaimana, Yos?" tanyanya sambil memutar tubuh di depan cermin besar.
"Kamu... kamu luar biasa, Arini," jawabku jujur, membuat wajahnya memerah samar.
"Aku akan mencoba satu lagi yang berwarna senada. Tunggu sebentar, ya?" katanya dengan riang.
Dia kembali masuk ke ruang ganti. Aku berdiri di area tunggu, menatap pantulan diri ku di cermin. Seorang pria yang dulunya hancur, kini berdiri di butik mewah bersama wanita yang luar biasa. Aku merasa beruntung. Aku merasa hidup.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas-ku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Layar nya menyala, menampilkan nama yang membuat detak jantungku berhenti sejenak.
Citra..
Tanganku gemetar saat membukanya. Wanita yang pernah menjadi duniaku, wanita yang pernah mengorbankan segalanya untukku, sebelum takdir memisahkan kami dengan cara yang begitu menyakitkan. Aku belum pernah melupakannya sepenuhnya; ada ruang di hatiku yang selalu menyimpan namanya, sebuah penyesalan yang menggantung.
Aku mulai membaca pesan itu, dan setiap kata yang tertulis terasa seperti pisau yang menyayat lapisan luka lama yang sudah kupikir sembuh.
"Yos sayang, masih ingat aku?
Kamu sudah menikah?
Aku tahu kamu sudah keluar dari kantor itu sehari setelah kepergianku.