Pare, akhir Oktober 2011
Siang itu, matahari Pare menyengat seperti biasa. Di sela waktu sebelum kelas sore di Elfast, aku memilih rebahan di kasur camp. Baru saja mulai merasa nyaman, pintu kamar terbuka dan suara Zahra menggema ceria.
"Al, kelas kita mau ke Bromo nih. Ikut yuk!" serunya tanpa basa-basi.
Mataku langsung terbuka lebar. "Ih, kebetulan banget aku belum pernah ke Bromo. Tapi, emang nggak apa-apa aku gabung kelas kalian?"
"Nggak apa-apa kok, kelas lain juga banyak yang ikutan," timpal Trian sambil duduk di lantai, mulai membuka tas.
Aku bangkit sambil tersenyum lebar. "Maauuuuu! Regar ikut nggak?"
"Nggak, katanya dia udah pernah ke Bromo," jawab Trian.
Aku mengangguk pelan. Lalu entah kenapa, bibirku refleks bertanya, "Kalau temennya Regar yang waktu itu makan bareng kita, ikut nggak?"
Zahra melirikku geli. "Isa? Iya, dia ikut."
Aku pura-pura sibuk dengan bantal, tapi nggak bisa menahan senyum kecil yang mulai muncul sendiri. "Oke deh, catet namaku ya."
Zahra langsung menuliskan namaku di daftar peserta Tour de Bromo.
Kami bertiga pun sibuk menyiapkan perlengkapan. Karena aku datang ke Pare hanya dengan koper dan satu tas bahu, sebagian perlengkapan harus kupinjam dari teman-teman. Di Pare, saling pinjam itu hal biasa. Justru jadi alasan buat makin dekat.
Jumat siang, sehari sebelum keberangkatan, setelah belanja keperluan kecil, kami bertiga mampir ke warung es campur dekat kosan Regar. Duduk di bangku panjang sambil menikmati semangkuk es warna-warni adalah salah satu kenikmatan paling hakiki versi Pare.
"Alhamdulillah seger banget es campurnya. Mas, air mineralnya satu ya," ucapku ke penjual.
"Nambahlah, Al," goda Trian.
"Nggak ah, sayang duit. Kan mau ke Bromo besok," sahutku sambil mengaduk es.
Tiba-tiba, kerumunan laki-laki berbaju koko berjalan ke arah kami. Rupanya salat Jumat baru selesai. Di antara wajah-wajah yang lewat, satu sosok membuat jantungku melambat. Isa. Baju koko putih, celana hitam, rambut sedikit berantakan tapi tetap rapi.
Dia tersenyum. "Hai, Kak!"
Dika muncul di belakangnya, ikut menyapa. "Mbak!"
"Aku sama Trian nggak disapa?" protes Zahra.
Isa tertawa kecil. "Mbak!" katanya lagi, lebih keras.
Isa lalu duduk di sebelahku. "Dari mana kalian?"
"Baru belanja perlengkapan buat ke Bromo besok," jawabku.
"Kamu udah belanja belum?" tanyaku balik.
"Bingung, harus beli apa ya?"
"Ya beli yang kamu butuhin lah."
"Tapi aku nggak butuh apa-apa."
"Ya udah, berarti keperluan kamu udah lengkap," ucapku.
Dari kejauhan, tampak Rio, teman sekampusku juga. Ia berambut ikal pendek, kurus, tampak santai dengan kaos putih dan celana jeans selutut, menaiki sepeda ke arah kami. Rio juga satu kosan dengan Isa dan Regar.