Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Rasanya seperti anak TK yang hendak pergi piknik untuk pertama kalinya bersama teman-teman sekelas. Aku begitu antusias. Ini kali pertamaku akan melihat langsung gunung berapi yang namanya sudah sering kudengar di pelajaran Geografi, Gunung Bromo, yang diapit oleh empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Malam itu aku mengenakan atasan garis-garis hitam putih dengan lengan 3/4, celana jeans, dan jaket hitam yang sudah kusiapkan sejak sore, bahkan sempat kusetrika. Leherku kulilitkan syal hitam. Bukan karena dingin, tapi karena ingin tampil seperti cewek Korea pas winter.
“Ntar aja, Al. Dipakainya pas udah di Bromo. Pare mah masih panas,” kata Zahra mengingatkanku.
“Biar vibes-nya berasa dari sekarang dong, Ra!” ujarku sambil terkekeh.
Tapi belum juga lima menit kami keluar dari camp, keringat sudah mulai mengalir dari pelipis. Dengan enggan aku melepas syal dan menyelipkannya ke dalam tas pinjaman dari Rio.
“Oy, cewek Korea! Syalnya udah dilepas? Katanya winter?” Trian menyindir sambil tertawa.
“Gerah, cuy…” jawabku pendek.
Pukul sembilan malam, seluruh peserta Tour de Bromo berkumpul di depan toko kelontong Al-Amin. Dua minibus Elf telah terparkir. Suasananya riuh, tapi menyenangkan.
Mataku menyapu sekitar dan langsung menangkap sosok familiar. Isa. Ia berdiri sendiri, menyender di tembok toko. Jaket hitam, celana jeans biru, sneakers, dan sebentar, itu… rokok di tangannya? Aku sedikit terkejut, tapi justru malah berpikir, kok tetep keliatan keren sih?
“Isa,” sapaku dengan suara kali ini nyata.
“Hei, Kak!” jawabnya sambil tersenyum. Matanya sipit menyempit lebih dalam.
“Mau naik mobil yang mana?” tanyaku.
“Mana aja yang masih kosong.”
Nih hati aku juga masih kosong, Sa... batinku, tentu saja tak terucap.
“Alanaa!”
Zahra memanggil dari dalam mobil. Aku menoleh cepat dan melambaikan tangan ke Isa.
“Kalo gitu aku ke Zahra dulu ya!”
“Oke, Kak. Aku masih mau ngerokok dulu.”
Aku tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Zahra sudah duduk bersama Azis di kursi belakang. Trian duduk di depan dan tempat di sebelahnya sudah terisi. Aku nyaris jadi obat nyamuk.
Sampai aku membuka jendela dan melihat Isa masih berdiri sendiri.
“Isa!”
Dia menoleh.
“Udah dapet tempat duduk?”
“Belum, Kak.”
“Sini, masih ada satu!”
Isa pun berlari kecil mendekat dan duduk di sampingku. Aku lega. Batal jadi penonton film romantis dengan dua pasangan yang bukan aku.
Perjalanan pun dimulai. Kami duduk berderet: Isa, aku, Zahra, dan Azis. Awalnya ngobrol berempat. Tapi makin malam, Zahra dan Azis sibuk sendiri. Sisanya… aku dan Isa.