Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #13

Sunrise dan Segenggam Edelweiss

Pukul tiga dini hari saat aku membuka mata. Mobil sudah berhenti. Dingin langsung menyeruak, tapi yang lebih terasa adalah berat di pundak kiriku. Saat kutoleh, ternyata Isa tertidur, menyandarkan kepala di bahuku. Rambutnya yang tebal menyentuh pipiku.

Perlahan, kutepuk pelan tangannya. Isa membuka mata dan mengangkat kepala.

“Udah sampai, ya?” gumamnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun.

“Udah. Dan kamu tadi tidur di bahu aku.”

“Ya?” Isa mengerjap.

“Harusnya aku yang bersandar di bahu kamu,” aku tersenyum. Isa membelalakkan mata, lalu ikut tersenyum malu.

Kami pun turun dari mobil. Udara menusuk tulang langsung menyambut. Padahal aku sudah pakai jaket, syal, dua lapis sarung tangan, dan dua pasang kaus kaki. Tapi tetap saja menggigil.

Mobil bak terbuka berjajar menunggu. Kami naik dan duduk saling merapat. Angin malam itu seperti pisau tipis yang terus menyayat kulit. Aku memeluk diriku sendiri, berusaha menahan dingin.

“Buset, dingin banget,” kataku sambil mengatupkan gigi.

“Nih, pegang tangan aku, biar nggak jatuh,” Isa menyodorkan tangannya.

“Kalau aku pegang tangan kamu, nanti kalau aku jatuh, kamu ikut jatuh dong,” candaku sambil tetap menerima uluran tangannya.

“Kalau Kak Alana mau jatuh, aku bakal pegangan ke orang sebelahku.”

“Terus yang di sebelah kamu pegangan ke sebelahnya lagi, trus jatuh semua deh,” kami pun tertawa.

Tujuan pertama kami adalah Penanjakan, tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Tapi untuk ke sana, kami harus naik tangga panjang dulu. Aku berpegangan pada railing. Zahra dan Trian sudah di depan. Isa berjalan di sampingku.

“Ini baru Penanjakan kan? Belum gunungnya?” tanyaku sambil ngos-ngosan.

“Udah mulai ngerasa capek, ya?”

“Sedikit. Tapi gapapa, seru.”

“Udah, jangan kebanyakan ngomong. Nanti tenaganya habis,” kata Isa sambil tetap menatap lurus ke depan.

Sesampainya di puncak Penanjakan, langit masih gelap. Beberapa pengunjung duduk di tribun setengah lingkaran, yang lain berdiri di pagar pembatas timur, kamera dan tripod siap siaga. Aku dan Isa berdiri di dekat pagar.

Lihat selengkapnya