Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #14

Kawah, Pasir, dan Genggaman

Perjalanan menuju kawah Gunung Bromo terasa seperti petualangan kecil yang penuh kejutan. Kali ini aku dan Isa duduk di bagian tengah mobil bak terbuka, bersandar santai di dinding belakang kepala mobil. Tidak perlu lagi berpegangan pada tepian, cukup saling menyandarkan tubuh pada dingin dan debu.

“Guys, kita udah mau nyampe!” seru Mister Dul sambil menunjuk ke bawah. Dari tempat kami berada, tampak hamparan lautan pasir luas membentang. Mister Dul yang sudah puluhan kali ke Bromo tampaknya lebih mengenal medan ini daripada sebagian besar peta wisata. Beruntung kami tak perlu repot menyewa tour guide.

Sesampainya di parkiran, ratusan mobil, baik jip maupun pick-up, berjajar rapi di sisi pagar beton. Di depan sana, terlihat jelas jalur menuju kaki kawah: pilihannya hanya dua, berjalan kaki atau menunggang kuda.

Matahari belum terlalu tinggi, udara masih sejuk. Kami memutuskan berjalan kaki. Awalnya semangat. Tapi setelah beberapa menit, langkahku mulai melambat.

“Sa, dari parkiran tadi kelihatannya gunungnya nggak terlalu jauh. Tapi kok makin jalan malah kayak makin menjauh, ya?” Aku nyengir kelelahan.

“Naik kuda aja yuk. Nanti masih harus naik tangga juga. Kalau sekarang udah habis tenaga, bisa-bisa nyerah di tengah jalan,” kata Isa sambil melihat ke arahku.

Aku mengangguk setuju. Isa pun langsung menyewa dua ekor kuda. Kami berdua naik dan perlahan bergerak menyusuri lautan pasir. Di tengah jalan kami melewati Pura Luhur Poten, pura suci milik masyarakat Tengger. Di sela perjalanan, Isa sempat memanggilku, dan saat kutoleh, dia sudah siap mengabadikan momen lewat kamera ponselnya.

Tiba di kaki Gunung Bromo, kami turun dari kuda. Di depan kami berdiri deretan tangga panjang menuju kawah.

“Katanya anak tangganya ada dua ratus lima puluh, lho. Kita hitung yuk!” kataku sambil menaiki anak tangga pertama.

“Ya, kalau sanggup, hitung aja,” Isa terkekeh di belakangku.

Aku mengenakan masker pink bergambar Popeye, hadiah dari Aisa. Isa memakai masker medis warna hijau. Debu beterbangan, napas terasa berat. Baru beberapa menit naik, aku sudah kelelahan.

“Jadi, udah berapa anak tangga yang dilewatin?” goda Isa.

“Bodo amat, aku udah nggak peduli!” Aku mendesah. Isa tertawa pelan.

Tenaga terasa terkuras. Udara dingin, oksigen tipis. Kaki mulai berat.

“Yuk, Popeye kan kuat,” Isa menyemangati.

“Popeye kuat karena bayam, Sa. Aku tadi cuma makan mi instan,” kataku sambil tertawa kecil.

Lalu Isa menyusul dan menggandeng tanganku.

“Ayo, bareng.”

Lihat selengkapnya