Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #15

Rawon, Debu, dan Isi Kepala yang Ramai

Di dalam mobil yang melaju menuju Coban Rondo, aku mulai merasa tidak nyaman. Rambutku terasa kaku, penuh debu Bromo. Jaketku pun lengket, entah karena keringat atau udara panas yang makin menyusup siang itu. Ingin rasanya mengeluh, atau sekadar menyeka wajah. Tapi aku tahan. Aku tidak ingin terlihat ribet di depan Isa.

Kulepas masker Popeye-ku dan bercermin sekilas lewat kaca kecil di saku jaket. Wajahku kusam. Rambutku kusut dan acak-acakan. Saat kusisir perlahan, butiran pasir jatuh seperti remah roti, menodai jaket hitam kesayanganku.

Aku menghela napas. Tapi yaudahlah, yang penting nggak bau asem.

Setibanya di Malang, kami berhenti di sebuah rumah makan sederhana. Warung khas Jawa dengan aroma gorengan yang menggoda dari dapur. Kami duduk berkelompok. Aku berhadapan dengan Isa.

“Aku pesen rawon, kamu?” tanyaku, kali ini aku yang lebih dulu membuka obrolan.

“Soto ayam,” jawab Isa sambil membenarkan posisi duduknya. “Kayaknya enak di sini.”

Lihat selengkapnya