Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #17

Lagu, Pertanyaan, dan Rasa yang Tak Terucap

Dalam perjalanan pulang dari Coban Rondo ke Pare, sebagian besar temanku terlelap. Mungkin lelah setelah semalaman kurang tidur dan seharian bermain di alam. Tapi aku dan Isa masih terjaga. Di kursi belakang yang bergoyang pelan, kami kembali larut dalam percakapan.

“Kenapa kakak milih jurusan jurnalistik?” tanya Isa sambil menoleh.

“Karena peminatnya paling sedikit di antara jurusan lain di Fikom. Jadi saingannya dikit,” jawabku santai, menyembunyikan alasan sebenarnya.

Isa tertawa kecil. “Beneran?”

“Ya, ada benarnya. Tapi juga karena aku suka nulis. Dan, karena aku pengen jadi reporter TV, biar bisa jalan-jalan gratis,” tambahku, mencoba terdengar ringan.

Isa menatapku sejenak, lalu bertanya pelan, “Kakak sekarang umur berapa?”

Aku mendesah pendek. “Dua puluh empat.”

“Di umur segitu, kakak harusnya udah punya pekerjaan tetap, dan pasangan yang serius.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang kukira. Bukan karena salah, tapi karena menyentil bagian dalam diriku yang paling rapuh. Aku diam. Antara ingin menjelaskan dan ingin menangis.

Isa menyadari perubahan raut wajahku. Tapi dia memilih diam. Mungkin sadar sudah menyentuh luka yang belum sembuh.

“Dengerin musik yuk. Pake HP kakak aja ya?” katanya akhirnya, mencoba mencairkan suasana.

Aku mengangguk kecil dan menyerahkan earphone. Kami berbagi. Isa di telinga kanan, aku di kiri. Lagu pertama yang mengalun adalah suara lembut Sabrina, penyanyi Filipina dengan aransemen akustik.

“The Reason,” ucap Isa. “Aku suka banget lagu ini.”

Aku mengangguk. “Sama. Aku suka bagian ini.”

I'm sorry that I hurt you

It's something I must live with everyday

And all the pain I put you through

I wish that I could take it all away

And be the one who catches all your tears

Kami larut dalam suara dan lirik. Tanpa sadar, lagu-lagu selanjutnya mengalir begitu saja. Hingga layar ponsel menampilkan judul: Dream Theater – The Spirit Carries On.

Aku memajukan jempol untuk mengganti.

“Eh, jangan diganti,” cegah Isa cepat.

“Emang bagus?” tanyaku ragu.

“Dengerin deh. Ini lagu yang... dalam.”

Lihat selengkapnya