Dari Jalan Brawijaya, aku dan Trian mengayuh sepeda menuju Jalan Pancawarna. Tujuan kami satu: makan ayam penyet favorit di warung Bu Tin. Setelah semalaman tidur tanpa mandi sepulang dari Coban Rondo, aku membayangkan ayam goreng hangat dengan sambal yang menggugah selera.
Di warung Bu Tin, kulihat Zahra sudah duduk santai di bangku besar di bawah pohon kersen. Tapi bukan itu yang membuat langkahku terhenti. Di bangku yang sama, ada Regar dan segerombolan teman kosannya. Dan di sana juga ada dia, Isa.
“Al!” Regar menyapaku hangat. Tapi Isa... tidak. Wajahnya lurus, tanpa reaksi, seperti aku tak pernah ada.
“Gar… kalian baru mau makan atau udah kelar?” tanyaku, mencoba tetap santai.
“Baru banget kelar,” jawab Regar sambil menoleh ke arah teman-temannya.
“Oke. Aku duduk di sana aja ya,” aku menunjuk ke arah Zahra. Lidahku kelu jika harus berkata lebih banyak, terutama saat mata Isa sama sekali tidak menoleh.
“Gabung aja sama kita, Al,” tawar Regar.
“Segambreng gitu, sempit kali. Ntar aku malah makan di pangkuan orang,” jawabku sambil setengah tertawa. Tapi tawa itu hanya kedok.