Pare, awal November 2011
Dua hari lagi seluruh umat Islam akan memperingati Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriah. Hari itu hari Jumat. Usai mengikuti English Class, Zahra dan Trian mengajakku makan di warung ayam tulang lunak favorit kami.
Karena aku sedang malas membawa Pungky, dan hatiku sedang tidak benar-benar bersemangat, aku pun dengan senang hati dibonceng Trian hingga ke warung itu. Di dalam warung, tampak Regar dan Isa sudah lebih dulu duduk di meja panjang.
“Gabung yuk,” kata Zahra. Kami pun bergabung. Aku duduk persis di depan Isa.
“Hey, Kak. Apa kabar?” Isa menyapaku lebih dulu.
“Alhamdulillah, sehat. Kamu?” jawabku, berusaha terdengar netral.
“Baik, Kak. Udah pesen makan?”
“Itu hal pertama yang kami lakuin pas sampai sini,” jawabku, masih dengan jarak.
“Kalau gitu aku makan dulu ya, Kak.”
“Silakan.”
Tapi sepanjang makan malam itu... Isa terasa berbeda. Bukan lagi Isa yang dingin seperti waktu di warung Bu Tin. Sekarang dia kembali jadi Isa yang dulu, ramah, hangat, ringan.
Aku mulai bertanya-tanya. Yang mana Isa yang sebenarnya?
“Kak, aku bentar lagi pulang,” ucap Isa tiba-tiba.
“Oh, udah kenyang makannya?” tanyaku sambil melihat piring kosong di depannya.
“Pulang ke Pekanbaru, Kak.”
“Oh… tanggal berapa?”
“Tanggal 10.”
“Zahra sama Trian juga tanggal 10,” ucapku pelan. Rasa kecewa muncul tanpa bisa kutahan.
“Bang Regar juga tanggal 10,” Isa menambahkan.
“GAR! KENAPA NGGAK BILANG?!?!” Aku setengah teriak ke arah Regar yang sibuk dengan ayamnya.
“Lupa… soalnya kita jarang ketemu sih,” jawabnya santai.
“Yah, semuanya pulang. Aku di sini sama siapa dong?” Aku mengeluh sambil menatap kosong ke arah meja.
“Kan masih banyak temen di camp, belum yang di kelas juga,” hibur Trian.
“Sa… kamu bisa diem aja gak?” Aku menatap Isa.