Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #23

Transferan Kasih Sayang

Terdengar suara berisik dari ruang tengah, aku pun membuka mata perlahan. Rupanya aku ketiduran. Kuraih HP yang tergeletak di samping kasur, layarnya menyala menunjukkan pukul 14.00.

“Astagfirullahaladzim…” aku langsung bangkit, setengah berlari ke luar kamar.

Hujan masih mengguyur dengan derasnya. Aku menatap keluar lewat jendela depan camp, lalu buru-buru mengecek HP. Sudah ada dua pesan dari Isa:

Isa:

Masih ujan aja ka, gimana dong?

Isa:

Kak Alana... :(*

Aku pun langsung membalas:

Aku:

Isaaaaaaa... maaf banget, aku ketiduran. Ini baru banget bangun. Iya nih, kayaknya ujan bakalan awet. Yaudah, nanti kalau udah reda, kita jalan-jalannya di sekitaran Pare aja yah 😉

Isa:

Oke ka, nanti kalo ujannya udah berhenti aku jemput yah.

Aku:

Okesip.

Aku kembali ke dalam, menghampiri Trian yang tengah duduk melipat kaki sambil menonton TV.

“Yaaaan… laperrrr,” keluhku sambil memegangi perut.

“Samaa… tapi ga ada apa-apa di sini. Mau keluar hujannya ngeri banget,” Trian mengeluh, setengah merebahkan badannya ke karpet.

Kami pun akhirnya duduk selonjoran di depan TV. Trian mengganti-ganti channel berkali-kali, berharap ada tayangan yang cukup seru buat ngelupain rasa lapar. Tapi nihil.

Terlentang. Tengkurap. Duduk. Guling-guling. Nonton. Rebahan lagi. Semua posisi udah dicoba, tapi perut tetap berbunyi.

Hingga akhirnya, terdengar suara langkah kaki dari arah luar. Seseorang mengetuk pintu, lalu suara yang sangat familiar terdengar.

“Assalaamualaikum!”

“Waalaikumsalam!” seru kami berdua kompak.

Tampak Zahra berdiri di depan pintu dengan baju yang sedikit basah oleh gerimis. Di tangannya, sebuah kresek putih besar tergantung manis.

Lihat selengkapnya