Hujan yang mengguyur Pare baru benar-benar berhenti menjelang magrib. Aku pun bergegas mandi dan berganti baju. Kupakai kaus putih dan celana jeans biru muda. Lalu kulapis tubuhku dengan jaket hitam favorit. Setelah shalat magrib, pesan dari Isa masuk ke ponselku.
Isa:
Kak, aku udah di depan camp, ya.
Aku pun bergegas keluar, memakai sandal jepit, lalu menuntun sepedaku. Di luar, Isa sudah menunggu, mengenakan kaus abu dan jeans biru gelap.
“Sepedanya ganti?” tanyaku sambil menunjuk sepedanya.
“Punyaku bannya kempes. Jadi pinjem dulu punya Magetan Boy.”
“Jangan bilang... bannya kempes gara-gara kamu boncengin aku waktu itu?”
“Emang.” Dia menjawab dengan wajah tanpa ekspresi.
“Hah serius? Padahal berat aku cuma 48 kg lho. Aku keberatan dosa kali ya,” jawabku sambil nyengir.
“Mungkin.” Kali ini dia menjawab sambil tersenyum kecil, yang bikin matanya makin sipit.
Kami pun mengayuh sepeda menyusuri jalanan kecil.
“Mau ke mana nih?”
“Bali House aja.”
“Siap.” Aku membelokkan sepedaku mengikuti arahnya. Tapi begitu sampai, warung itu tutup.
“Yah, tutup Sa. Plan B?”
“Cari tempat lain aja, yuk.”
Tiba-tiba terdengar teriakan, “Alanaaaa!”
Kami menoleh. Regar duduk di sebuah warung makan bersama Reza dan teman-temannya.
“Gar!” Aku melambaikan tangan.
“Kita makan sini aja yuk,” tawarku.
“Tuh Sa, makan di sini aja katanya,” ujar Reza.
“Kita mau muter dulu aja, Mas,” Isa menolak halus.
Kami pun lanjut mengayuh sepeda.
“Makan agak jauhan dikit mau?” tanya Isa.
“Kemana? Malang?”
“Enggak, Jalan Pahlawan. Makan ayam goreng.”