Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #27

Give Me Some Sign

Ba’da magrib, langit Pare masih menyimpan sisa gerimis senja. Udaranya sejuk, dan aroma tanah basah seakan membangunkan kenangan yang bahkan belum sempat jadi. Isa sudah menungguku di depan camp. Aku pun bergegas menemuinya.

“Ban sepeda kamu belum dipompa juga, Sa?” tanyaku, melihat Isa masih memakai sepeda Dika.

“Tanggung ah, kan bentar lagi mau pulang ke Pekanbaru,” jawabnya.

“Ooohh, yuk berangkat!”

Kami mengayuh sepeda perlahan di bawah langit yang mulai gelap, menyusuri jalan Brawijaya yang lengang, seolah Pare sengaja memberi ruang untuk kami berdua menikmati malam.

Kami memutuskan makan di warung ayam tulang lunak. Di sana, kami duduk di bangku panjang yang kosong. Angin malam membelai pelan wajahku, membawa suara jangkrik dan aroma kayu dari dapur warung.

Pesanan kami belum datang saat Regar dan rombongannya tiba.

“Hei Al,” sapa Regar.

“Pare sempit banget ya. Sini-sini gabung,” ajakku. Tapi mereka memilih duduk di tempat lesehan kecil yang jelas tak akan cukup.

“Dih, mana muat kalian semua duduk di situ. Udah, di sini aja.”

“Muaaat. Yuk ah, aku ke sana dulu. Yuk Sa!”

“Ok bang,” timpal Isa.

Aku dan Isa tertawa pelan melihat kelakuan mereka. Lalu Isa menoleh padaku. “Yuk, kita pindah aja ke tempat lesehan. Biar mereka pindah ke sini.”

Kami pun pindah ke tempat duduk kecil, sempit, tapi entah kenapa terasa cukup. Mungkin karena kami hanya berdua, dan rasanya... tak butuh dunia lain.

Tak lama, Jati datang bersama seorang temannya. Jati, setinggi pohon jati, dan temannya tak kalah jangkung. Setelah tersenyum padaku, Isa mengenalkannya.

“Randy,” ucapnya.

“Alana,” jawabku singkat.

Sambil mereka ngobrol, aku menghabiskan makananku. Tapi bukan hanya perutku yang terasa hangat. Ada ruang dalam dadaku yang tak biasa, seperti menunggu sesuatu yang belum terucap.

“Jati pulangnya sama tanggal sepuluh juga?”

“Enggak, dia sebulan lagi di sini, nemenin si Randy yang baru datang,” jelas Isa.

“Oh, jadi Randy itu pengganti kamu?” Aku tersenyum kecil.

“Iyaaa, biar Jati nggak tidur sendirian nanti,” ucap Isa sambil melirik rombongan Regar.

“Aku juga harus nyiapin pengganti Zahra dan Trian, ya.”

“Nanti juga ketemu temen-temen baru lagi, kan?”

“Tapi aku udah klik banget, Sa, sama mereka.”

Hening sejenak. Angin menerpa pelan. Suara sendok yang bersentuhan dengan piring terdengar dari meja sebelah.

“Dulu niat aku ke Pare cuma belajar, lho Sa,” kataku pelan. “Aku nggak pernah memprediksi bakal ada pertemuan dan perpisahan yang seberat ini.”

“Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kita harus siap. All is well.”

“All is well,” aku tersenyum, menatap meja, bukan wajah Isa.

“Aku perlu nyanyi lagunya juga nggak?”

“Jangan, malu banyak orang,” jawab Isa.

Kami tertawa kecil. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang patah pelan-pelan.

“Oya, kemarin pas mau tidur, Jati nanya-nanya soal kita.”

Lihat selengkapnya