Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #28

But, This Is Isa

Hari ini Isa mengabariku bahwa ba’da magrib ia dan teman-teman kosannya akan futsal. Jadi malam ini kami tidak bisa makan bareng seperti kemarin. Aku tidak keberatan. Momen ini justru kupakai untuk dinner bersama Zahra dan Trian. Mereka sebentar lagi akan pergi, waktuku bersama mereka sangat berharga.

Malam itu, selepas makan, kami bertiga duduk santai di ruang tengah camp Logico. Ruangan itu cukup luas untuk ukuran rumah sederhana. Lantainya berkeramik putih, dindingnya sudah dari tembok yang dicat putih bersih. Sebuah televisi mungil menempel di atas meja kayu, memancarkan cahaya lembut yang bersaing dengan lampu bohlam putih yang tergantung di langit-langit.

Tak ada dekorasi mewah. Tapi hangatnya tempat ini datang dari tawa-tawa penghuninya, dari candaan receh yang dilemparkan tanpa jeda, dari teh manis dan biskuit yang dibagi tanpa diminta.

Pintu-pintu kamarnya terbuat dari kayu dan dicat biru laut. Sederhana tapi berkarakter. Camp ini memang jauh dari kesan glamor. Tapi entah mengapa, di sinilah aku merasa paling hidup.

Sekitar pukul sembilan malam, sebuah pesan masuk ke HP-ku. Nama Isa terpampang di layar.

Isa

Kak Alana, lagi apa?

Aku

Hei. Udah selesai futsalnya? Aku lagi ngobrol aja sama Zahra dan Trian, sambil nonton TV.

Isa

Oh… jadi di Logico ada TV juga? Kirain sinyal listrik aja masih pakai genset, hehe.

Aku mendecak pelan dan tertawa kecil. Camp Logico memang kerap jadi bahan candaan karena bentuknya yang sederhana. Beberapa teman bahkan menjulukinya stable. Tapi aku tak ambil pusing. Bukankah rumah bukan soal tampilan, melainkan rasa?

Aku

Ada dong. Tapi antenanya pakai tutup panci. Puas?

Isa

Hahahaha. Ngakak aku, Kak.

Lihat selengkapnya