Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #29

Yang Tak Pernah Siap Pergi

Pare, 9 November 2011

Hari ini aku benar-benar sibuk. Pagi tadi aku mengikuti ujian Basic Program 1 di Elfast. Siangnya, aku mendampingi Nita, teman kuliahku di Jatinangor, yang baru saja tiba di Pare. Ia penasaran dengan cerita-ceritaku tentang kampung kecil ini, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil kursus di Elfast. Sebagai satu-satunya orang yang ia kenal di sini, aku tentu tak mungkin membiarkannya sendirian.

Sepanjang hari aku seperti mesin yang terus bergerak. Tapi diam-diam, di antara langkah kaki dan senyum ramahku, ada satu kegelisahan yang terus mengendap. Berkali-kali aku menatap layar ponsel, berharap ada namanya di sana. Tapi tidak ada. Sama sekali tidak ada. Besok Isa akan pergi meninggalkan Pare. Dan aku? Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.

Ingin rasanya aku datang ke kosannya, melihat dia berkemas, mengobrol seperti biasa, tertawa, makan bareng, semua hal yang biasanya kami lakukan. Tapi aku terlalu ragu. Terlalu takut. Takut kalau semua momen itu justru akan menancap terlalu dalam, menyulitkanku untuk melepaskan. Aku bahkan tidak yakin, apakah perasaanku padanya sepenuhnya masuk akal.

Malamnya, Nita memutuskan menginap di kamar kami. Katanya agar bisa lebih dekat dengan penghuni Logico lainnya, dan mungkin juga karena Zahra dan Trian akan segera pulang. Jadi malam ini, kami tidur berempat.

Kutarik selimut. HP masih kugenggam. Namanya belum muncul juga. Ah, aku memang pengecut. Tak berani mengirim pesan duluan, tapi terus berharap dihubungi. Aku memalingkan wajah dan menutupinya dengan bantal. Ada yang mengalir dari sudut mataku. Dan rasanya, itu bukan hanya air mata, tapi juga rasa kehilangan yang mulai mengintip.

Usai salat Magrib, seperti biasa aku ikut kelas malam. Saat Miss Dira tengah menjelaskan materi, HP-ku bergetar. Namanya muncul di layar. Rasanya ingin loncat dari kursi saking girangnya.

Isa:

Kak Alana jahaaattt :((

Aku:

Isaaaaaaa… :(

Seandainya Isa ada di depanku sekarang, mungkin aku sudah memeluknya tanpa banyak kata. Rasa rindu ini terlalu besar untuk ditampung sendirian.

Isa:

Seharian nggak ada kabarnya. Miss you…

Aku:

Maaf banget. Seharian nganterin Nita daftar les. Miss you too, Sa. So badly, even painfully… :(

Isa:

Pengen ketemu. Tapi malam ini futsal terakhir bareng temen-temen. Katanya sekalian perpisahan.

Aku menahan napas. Ada kalanya, rindu harus menyerah pada realita.

Aku:

Iya, aku juga lagi kelas malam nih. Have fun yah. Kabari aku kalau udah selesai.

Isa:

Oke. Nanti aku kabarin.

Malam itu aku berusaha bersikap biasa. Aku tertawa dengan Zahra, Trian, dan Nita. Tapi sesekali mataku melirik ke layar ponsel. Menunggu. Menunggu kabar dari seseorang yang akan pergi.

Pukul 22.00 lewat sedikit, akhirnya notifikasi itu muncul.

Isa:

Lihat selengkapnya