Pare, 10 November 2011
Pagi itu, Pare diselimuti langit kelabu. Embun belum benar-benar hilang dari dedaunan di pinggir jalan. Udara masih dingin, bahkan angin pun berbisik pelan seolah tahu: hari ini akan berat.
Hari ini, Isa akan pergi.
Seperti biasa, aku bangun lebih awal dan mengikuti kelas pagi sampai pukul enam. Tapi aku sengaja tidak masuk ke kelas Basic Program 2, padahal hari ini hari pertamaku. Untuk apa? Karena Isa lebih penting. Setidaknya hari ini.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 lewat, dan Isa belum datang. Aku berdiri di depan camp Logico yang sederhana, tembok putihnya dingin oleh sisa hujan semalam. Aku memandangi jalanan yang basah, berharap dari ujung gang itu muncul sosok yang sedang kutunggu.
Sekitar pukul 06.30, suara rantai sepeda berbunyi pelan. Dan benar saja, Isa datang.
“Katanya abis subuh,” ucapku datar, menahan kecewa.
“Iya... maaf. Semalam futsal, capek banget,” Isa turun dari sepedanya.
Aku menatapnya. “Yuk.”
“Mau ke mana?”
“Nasi kuning Legong. Cuma itu yang buka sepagi ini.”
Kami pun bersepeda menyusuri jalan Brawijaya yang masih lengang. Saat tiba, warung itu masih sepi. Kami pengunjung pertama. Langit di atas kami mendung, seolah ikut menggantungkan harapan yang tak pernah sempat diucapkan.
Kami duduk berhadapan. Sepiring nasi kuning disajikan dengan telur dadar, timun, sambal. Tapi tidak ada orek tempe, tentu saja. Aku tidak suka.
“Bukannya kamu hari ini mulai BP2?” Isa memecah diam.
“Iya.”
“Kenapa bolos?”
“Karena BP2 besok masih ada. Kamu? Dua jam lagi juga udah nggak ada di Pare.”
Isa tertunduk. Angin berembus pelan. Daun-daun di atap warung berdesir lirih.
“Semalam semua anak kosan ikut futsal?”
“Iya.”
“Kamu suka banget futsal ya?”
“Suka.”
Aku mengangguk. “Kalau aku... olahraga favoritku sejak di Pare tuh sepedaan. Capek, tapi nyenengin.”
Isa tertawa kecil. “Kalau sepedaan mah kebutuhan, bukan olahraga.”
“Ya tapi kan keringetan. Sah dong disebut olahraga,” balasku. Akhirnya aku menang argumen hari ini. Lumayan.
“Kak...” Isa menatapku, serius.
“Ya?”
“Soal SMS aku...”
Aku pura-pura bingung. “Yang mana?”
“Yang Selasa malam.”
“Oh, yang kamu bilang I like you?”
Isa mengangguk pelan.
Aku diam. Detik berjalan lebih lambat. Angin terasa semakin dingin.
“Kak,” lanjutnya, suaranya pelan, “aku ngerasa... ada lubang di hati aku.”
“Maksudnya?”
“Pas aku mulai punya rasa yang beda, aku harus pergi.”
Aku menatap matanya. Matanya sipit, tapi kali ini aku bisa melihat, ada luka kecil yang tak sempat ia sembunyikan.
“Kalau lubang kan bisa ditambal, Sa,” aku mencoba tersenyum.
Isa menggeleng, matanya masih menatapku. “Tapi bentuknya nggak akan sama lagi.”
Aku menunduk. Nasi kuning yang tadi kupuja kini hambar. Bahkan suapan terakhir pun tak sanggup kutelan.
Dan saat itu, aku tahu...