Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #31

Lubang Itu Benar-Benar Ada

Di camp, aku hanya termenung di atas kasur kapuk. Kuletakkan kedua tanganku di atas dada, mencoba menarik napas panjang yang terasa berat di dada. Lubang di hati yang sempat diucapkan Isa kini terasa benar-benar ada, menganga dan tak bisa kututup.

Aku membalikkan badan ke sisi kiri, memunggungi dunia, berusaha menahan tangis yang mulai menggenang. Tapi semakin kutahan, justru semakin sesak. Aku hanya bisa diam, memeluk luka yang baru beberapa jam lalu ditinggalkan.

Sekitar pukul 11.30, Zahra dan Trian masuk ke kamar. “Al, yuk ikut nemenin Regar sebentar sebelum dia pulang,” ajak mereka.


Aku bangkit perlahan dari kasur. Mataku masih sembab, tapi kupaksakan tersenyum. Sebelum bertemu Regar, aku sempat mampir ke warung kecil untuk membeli jus mangga kesukaan dia.

Di seberang jalan, tampak Regar berdiri santai di bawah rindang pohon, menunggu angkot. Aku mendekatinya, lalu menyodorkan jus mangga ke arahnya.


"Nih Gar, diminum dulu biar seger."

"Wah makasih," katanya sambil menyambut dan menyeruputnya perlahan.

Aku menatap Regar dalam-dalam. Dia adalah salah satu alasan keberanianku datang ke Pare sendirian. Regar yang dari awal menjagaku, memperkenalkan lingkungan ini, yang menjadi perantara hingga aku bisa sedekat ini dengan Isa. 

Dan sekarang, dalam satu hari, dua orang terdekatku pergi. Air mataku kembali jatuh. Tak bisa kutahan kali ini.

Lihat selengkapnya