Waktu Isa Sudah Lewat

Alfia
Chapter #34

The Hardest Goodbye

Malam ini, hanya ada aku dan Nita di kamar. Zahra dan Trian, dua orang yang selama ini jadi tempatku bersandar dan berbagi tawa, telah pulang ke rumah mereka masing-masing siang tadi.

Aku dan Nita mengantarkan mereka ke pertigaan Pelem, tempat kami biasa menjemput dan melepas siapa pun yang datang dan pergi dari Pare. Kami berdiri di sana, di bawah langit siang yang terlalu cerah untuk menyembunyikan airmata. Sebelum bus mereka tiba, kami berpelukan lama. Erat, penuh sesak.

“Wes toh, Al… Kamu masih sebulan lagi di sini, kan?” Suara Zahra terdengar pelan tapi tegas.

“Ntar aku usahain balik nengokin kamu. Lamongan–Pare kan deket.”

“Iya Al,” Trian menimpali. “Kalau urusan daftar kuliah kami udah kelar, kita pasti nyempetin balik lagi.”

Tapi tak ada kata yang mampu menghentikan tangisku. How do you say goodbye to people who made your days feel like home?

Mereka naik ke bus. Aku hanya bisa menatap dari bawah, seperti anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya.


Tak lama, bus itu melaju dan perlahan menghilang dari pandangan. Dan bersamaan dengan itu, hatiku pun terasa ikut terbawa.

Sesampainya di kamar, aku langsung membongkar segalanya. Lemari, kasur, posisi tidur, bahkan letak bantal pun kuubah. Aku berpikir mungkin, kalau ruanganku berubah, hatiku juga bisa ikut berubah.


Tapi ternyata tidak. Dinding putih ini tetap terasa kosong. Lantai keramik ini tetap memantulkan sepi. Dan tidak ada yang bisa mengisi lubang yang mulai menganga sejak Isa, Zahra, Trian, dan Regar pergi.

Nita tak berkata apa-apa. Mungkin dia paham, mungkin juga bingung. Yang jelas, aku hanya ingin sibuk. Bukan karena rajin, tapi karena takut. Takut kalau berhenti sejenak, aku akan benar-benar tenggelam dalam rasa kehilangan.

Malam itu, aku terbaring di kasur kapukku yang kini sepi. Kuletakkan kedua tanganku di atas dada. Kurasakan sesuatu yang hampa di sana, lubang seperti yang Isa bicarakan dulu. Kupalingkan badan ke samping, menarik selimut hingga ke dagu. Menahan tangis agar Nita tak terbangun.

Lihat selengkapnya