Keesokan harinya, aku kembali ke rutinitas. Aku paksa diriku untuk bangun, mandi, pergi ke kelas, dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi sejujurnya, Pare kini terasa lain. Bahkan angin pun seperti tahu siapa yang telah pergi.
Di kelas, aku mencoba fokus. Tapi sedikit-sedikit, aku menoleh ke kursi kosong yang seolah-olah Isa pernah duduki, padahal kami tak pernah sekelas.
Lucu yah, orang yang tidak pernah benar-benar bersamamu, tapi terasa paling nyata kehadirannya di mana-mana?
Beberapa hari setelah itu, aku mulai dekat dengan seorang lelaki bernama Aji, asal Cirebon. Kami sering ketemu di kelas Bridge Speaking. Aji itu cerdas, humoris, dan annoying in a charming way.
Aku masih ingat pertama kali kenal, kami dipasangkan dalam roleplay. Aku jadi ibunya, dia anaknya. Saat itu aku merasa inferior, karena grammar-ku masih berantakan sementara dia sudah so fluently.
Tapi dasar Aji, semakin aku bingung, semakin dia ngeledek. Sampai akhirnya aku tarik kerah bajunya dan dengan mata melotot bilang:
“Hey, don’t talk back to me!”
Sejak saat itu, dia selalu memerhatikanku. Katanya, aku galak tapi lucu. Ya sudah lah.