Pare, 10 Desember 2011
Akhirnya hari itu tiba. Hari terakhirku di Pare. Rasanya lega sekaligus berat. Lega karena akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang menyimpan luka, tapi berat karena harus meninggalkan jejak-jejak kenangan yang tak akan pernah sama lagi.
Setelah kelas pagi selesai, aku diminta menyampaikan last speech, seperti tradisi setiap penghuni Camp Logico yang akan pulang. Miss Dira pun memanggilku ke depan.
“Guys, time flies without us realizing it. I’ve spent almost three months here, and there were so many things we went through together. I believe the memories we’ve made will stay with us, funny, bittersweet, and unforgettable. I’m sure one day we’ll look back and smile at all the foolish moments we had in this camp. And for you, Miss Dira, thank you for all your kindness. It truly means a lot to me. Now it’s time for me to say goodbye. See you on the top, guys!”
Aku menyapu pandangan ke seluruh teman-temanku lalu kembali duduk di sebelah Miss Dira.
"Gimana Miss, keren gak pidato aku?"
"Biasa aja," jawabnya dengan nada datar.
"Yaaahhh, padahal aku udah nyiapin dari hari pertama masuk camp lho. Biar dramatis dan memorable," ujarku setengah ngambek.
"Lebay. Tapi lumayanlah. Mau sebagus apa juga, pidato perpisahan tuh tetep aja bikin sedih," kata Miss Dira, lalu kutarik ke dalam pelukanku.
“Keep in touch ya Miss,” bisikku pelan.
Ia mengangguk dengan senyum kecil.
Setelahnya, ponselku berdering. Muncul nama Aji di layar. Seperti biasa, dengan semangatnya yang gak pernah setengah-setengah.
Aku: Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Aji: Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi Al!
Aku: Selamat pagi Aji!